Krisis DRAM Global Picu Kenaikan Harga PC, Gamer dan Konsumen Kena Imbas

Dexop.com – Pasar teknologi global tengah menghadapi tekanan serius akibat krisis DRAM global yang semakin terasa memasuki akhir 2025. Kelangkaan pasokan memori DRAM telah mendorong kenaikan harga komponen secara signifikan dan mulai berdampak langsung pada harga PC, laptop, hingga perangkat gaming yang selama ini menjadi incaran konsumen.
Situasi ini membuat banyak produsen perangkat berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus memastikan pasokan tetap tersedia, sementara di sisi lain biaya produksi melonjak akibat mahalnya memori. Dampak krisis DRAM global pun kini tak lagi terbatas pada sektor industri atau server, melainkan merembet ke pasar konsumen secara luas.
Ledakan AI Jadi Akar Krisis DRAM Global
Penyebab utama krisis DRAM global berasal dari lonjakan permintaan sektor kecerdasan buatan (AI). Perusahaan seperti NVIDIA dan AMD terus mengembangkan akselerator AI dengan siklus rilis tahunan, yang sangat bergantung pada High-Bandwidth Memory (HBM).
HBM menjadi komponen vital untuk menjalankan model AI generasi terbaru karena mampu menyimpan bobot model dengan akses data berkecepatan tinggi. Namun, produksi HBM jauh lebih kompleks dibandingkan DRAM konsumen seperti DDR5. Satu bit HBM membutuhkan hingga tiga kali kapasitas wafer lebih besar dengan tingkat keberhasilan produksi yang lebih rendah.
Akibatnya, sebagian besar kapasitas manufaktur dialihkan ke HBM dan kebutuhan server AI, memperparah krisis DRAM global di pasar PC dan perangkat konsumen.
Harga RAM Melonjak, Produsen PC Tertekan
Dampak krisis DRAM global mulai terlihat jelas di rantai pasok PC. Wallace Santos, CEO MAINGEAR, mengonfirmasi bahwa harga DRAM dalam kontrak terbaru melonjak tajam. Menurutnya, banyak integrator sistem berusaha menahan kenaikan harga selama mungkin, tetapi tekanan biaya semakin sulit dihindari.
Ia bahkan menyarankan konsumen yang berencana membeli PC baru atau melakukan upgrade RAM untuk mempertimbangkan pembelian lebih awal. Santos memperkirakan kondisi pasokan akan semakin ketat sepanjang 2026 jika pembangunan pusat data AI terus meningkat.
Kenaikan Harga PC Mulai Terlihat
Sejumlah vendor besar dilaporkan tengah menyiapkan kenaikan harga akibat krisis DRAM global. Dell disebut berencana menaikkan harga ratusan dolar untuk lini notebook dan desktop profesional.
Untuk konfigurasi dengan RAM 32 GB, kenaikan harga diperkirakan berada di kisaran USD 130 hingga USD 230. Sementara sistem dengan RAM 128 GB berpotensi mengalami kenaikan biaya hingga USD 520 sampai USD 765. Bahkan laptop AI dengan GPU NVIDIA RTX PRO 500 Blackwell turut terdampak, dengan tambahan biaya signifikan tergantung kapasitas memori.
Server dan Data Center Ikut Menguras DRAM
Selain HBM, infrastruktur AI juga membutuhkan DRAM konvensional dalam jumlah besar untuk server, seperti DDR5 RDIMM serta varian MRDIMM dan MCRDIMM. Estimasi industri menunjukkan bahwa pada 2026, sektor AI dapat menyerap hingga 20 persen dari total produksi DRAM dunia.
Dengan porsi sebesar itu, krisis DRAM global diperkirakan tidak akan cepat mereda. Selama permintaan AI terus tumbuh agresif, pasokan DRAM untuk PC konsumen akan tetap berada di bawah tekanan.
Strategi Produsen Hadapi Krisis
Menghadapi krisis DRAM global, produsen PC memiliki ruang gerak yang terbatas. Opsi pertama adalah menaikkan harga jual produk akhir untuk menutupi biaya komponen yang melonjak, meski berisiko menekan daya beli konsumen.
Opsi kedua adalah menurunkan konfigurasi standar. Beberapa vendor mulai mempertimbangkan kembali RAM 8 GB sebagai baseline laptop kelas menengah, menggantikan standar 16 GB yang sebelumnya mulai umum.
Opsi ketiga adalah menunda atau menyederhanakan peluncuran produk premium. Penundaan beberapa lini GPU dan PC kelas atas disebut sebagai sinyal awal strategi ini di tengah krisis DRAM global.
Acer, Lenovo, hingga Vendor Kecil Ikut Terdampak
Jason Chen, Chairman Acer, mengakui bahwa Bill of Materials (BoM) untuk sejumlah produk Acer meningkat drastis akibat mahalnya memori. Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga menjadi langkah yang sulit dihindari jika perusahaan ingin menjaga pasokan tetap stabil.
Lenovo juga telah mengeluarkan peringatan bahwa kenaikan harga agresif mungkin terjadi jika krisis DRAM global berlanjut hingga 2026. Bahkan produsen modular seperti Framework dilaporkan mempertimbangkan kenaikan biaya upgrade RAM pada konfigurasi yang ada.
Gamer dan Konsumen Perlu Bersikap Strategis
Di tengah krisis DRAM global, gamer dan konsumen disarankan untuk tidak terburu-buru melakukan upgrade. Jika sistem saat ini masih memadai dengan RAM 8 GB atau 16 GB, menunda pembelian bisa menjadi langkah yang lebih aman secara finansial.
Alternatif lain adalah mempertimbangkan PC rakitan (pre-built) dari OEM besar, yang sering kali masih dijual dengan harga yang belum sepenuhnya mencerminkan kenaikan harga komponen mentah. Pasar RAM bekas DDR4 atau DDR5 juga dapat menjadi opsi, karena modul RAM relatif tahan lama dibandingkan GPU.
Dampak Meluas ke Industri Smartphone
Menariknya, krisis DRAM global tidak hanya berdampak pada PC dan laptop. Industri smartphone juga mulai merasakan tekanan serupa. Beberapa produsen dikabarkan menahan peningkatan kapasitas RAM pada model baru, sementara transisi ke konfigurasi RAM besar berjalan lebih lambat dari rencana.
Firma riset IDC memprediksi bahwa tekanan harga memori dapat menyebabkan penurunan pengiriman PC global hingga hampir 5 persen dalam satu tahun ke depan.
Krisis Jangka Panjang yang Menguji Industri
Sejumlah analis memperkirakan krisis DRAM global dapat berlangsung hingga 2027 atau bahkan 2028, tergantung pada seberapa cepat kapasitas manufaktur baru dapat dibangun dan apakah permintaan AI tetap tumbuh agresif.
Setelah industri teknologi melewati krisis akibat pandemi dan demam kripto, gelombang AI kini menjadi tantangan baru yang menguji ketahanan seluruh ekosistem. Bagi gamer dan konsumen, memahami dampak krisis DRAM global menjadi kunci agar dapat mengambil keputusan yang lebih cermat di tengah ketidakpastian pasar teknologi.



