Berita

Dari Mitra Idealistis ke Rival Sengit: Kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI yang Berujung Perang Bisnis Triliunan Dolar

Dexop.com – Kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI bermula satu dekade lalu, tepatnya pada 11 Desember 2015, ketika laboratorium kecerdasan buatan tersebut resmi diluncurkan sebagai organisasi nirlaba. Kala itu, OpenAI didirikan oleh Elon Musk bersama sejumlah tokoh teknologi ternama seperti Peter Thiel dan Reid Hoffman, dengan satu visi besar: mengembangkan kecerdasan buatan demi kepentingan seluruh umat manusia.

Para pendiri OpenAI bahkan berkomitmen menggelontorkan dana hingga 1 miliar dolar AS. Tujuannya jelas, menjaga riset AI tetap independen, terbuka, dan bebas dari tekanan komersial. Dalam konteks Silicon Valley yang identik dengan monetisasi cepat, OpenAI tampil sebagai anomali—sebuah laboratorium yang menempatkan etika dan kepentingan publik di atas keuntungan.

Namun, kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI tidak berjalan lurus seperti yang dibayangkan pada awal pendirian.

Perpisahan Musk dan Awal Perubahan Arah

Seiring berjalannya waktu, idealisme nirlaba OpenAI mulai diuji oleh realitas teknologi dan biaya riset yang kian membengkak. Elon Musk, yang saat itu masih berada di lingkar inti OpenAI, mulai menunjukkan ketidaknyamanan terhadap arah organisasi.

Pada 2017, Musk secara terbuka menyampaikan kekesalannya melalui email internal kepada para pendiri. Ia memperingatkan bahwa dirinya tidak akan lagi mendanai OpenAI apabila lembaga tersebut berubah menjadi startup teknologi yang mengejar keuntungan. Sam Altman, yang saat itu menjabat sebagai presiden OpenAI, merespons dengan menegaskan komitmennya terhadap struktur nirlaba.

Namun ketegangan tersebut menjadi penanda awal retaknya hubungan dua tokoh sentral dalam kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI.

Pada Februari 2018, Musk resmi meninggalkan dewan direksi OpenAI. Alasan resminya adalah untuk menghindari konflik kepentingan, mengingat Tesla semakin serius mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Meski demikian, kepergian Musk meninggalkan ruang kosong yang kemudian mendorong OpenAI mengambil keputusan strategis besar.

Dari Nirlaba ke Mesin Pertumbuhan Global

Tanpa Elon Musk, OpenAI perlahan bertransformasi. Untuk bertahan dan berkembang, organisasi ini mengadopsi struktur “capped-profit”, membuka pintu bagi investasi besar, termasuk dari Microsoft yang kemudian menjadi mitra strategis utama.

Transformasi tersebut mencapai puncaknya setelah peluncuran ChatGPT pada akhir 2022. Produk ini mengubah wajah OpenAI secara drastis. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, OpenAI menjelma menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Valuasi pasar privat OpenAI melonjak hingga sekitar 500 miliar dolar AS. Hampir seluruh nilai tersebut terakumulasi setelah ChatGPT menjadi produk massal yang digunakan lebih dari 800 juta orang setiap minggu. Dalam konteks ini, kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI berubah dari cerita idealisme menjadi simbol keberhasilan komersial AI.

Musk Bangun xAI dan Konflik Terbuka

Sementara OpenAI melesat, Elon Musk memilih jalur berbeda. Ia mendirikan perusahaan AI bernama xAI, yang kini diposisikan sebagai pesaing langsung OpenAI. Menurut laporan CNBC, xAI diperkirakan akan menutup pendanaan senilai 15 miliar dolar AS dengan valuasi pra-pendanaan sekitar 230 miliar dolar AS.

Langkah ini memperjelas bahwa kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI telah memasuki babak baru: persaingan terbuka di industri bernilai triliunan dolar. Musk tak hanya membangun kompetitor, tetapi juga menjadi kritikus paling vokal terhadap OpenAI, khususnya terkait kedekatannya dengan Microsoft.

Gugatan Hukum dan Tuduhan Pengkhianatan Misi

Puncak konflik terjadi pada awal 2024, ketika Elon Musk menggugat OpenAI dan Sam Altman. Dalam gugatan tersebut, Musk menuding OpenAI telah meninggalkan misi awalnya untuk mengembangkan AI demi kepentingan umat manusia secara luas.

Ia juga menilai bahwa OpenAI kini beroperasi layaknya korporasi teknologi besar, bukan lagi laboratorium riset nirlaba. Bahkan, Musk sempat mengajukan upaya hukum untuk mencegah OpenAI sepenuhnya bertransformasi menjadi entitas berorientasi laba.

Menariknya, Musk juga dilaporkan sempat mencoba mengakuisisi OpenAI dengan nilai sekitar 97,4 miliar dolar AS—sebuah langkah yang ironis, mengingat kritiknya terhadap komersialisasi AI. Episode ini semakin menegaskan kompleksitas kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI.

Biaya Fantastis dan Taruhan Masa Depan AI

Di balik konflik personal dan hukum, OpenAI kini menghadapi tantangan finansial yang luar biasa. Perusahaan ini diperkirakan telah mengalokasikan lebih dari 1,4 triliun dolar AS untuk infrastruktur, terutama pusat data raksasa dan chip berdaya tinggi.

Investasi tersebut diperlukan untuk mendukung perkembangan AI generatif yang kini merambah ke video, konten multimodal, hingga AI agenik yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas perusahaan global. Dalam skala ini, OpenAI berubah menjadi mesin pembakar uang yang bersaing langsung dengan raksasa teknologi mapan.

“OpenAI memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah AI,” kata Gil Luria, analis ekuitas D.A. Davidson. “Pertanyaannya sekarang, apakah OpenAI akan dikenang seperti Netscape atau justru menjadi Google berikutnya.”

Dari Superkomputer hingga Struktur Baru

Salah satu momen ikonik dalam kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI terjadi pada 2016, ketika CEO Nvidia Jensen Huang mengantarkan superkomputer DGX-1 ke kantor OpenAI di San Francisco. Mesin seharga 300 ribu dolar AS itu kala itu belum memiliki pembeli lain.

Huang mengaku sempat terkejut ketika Musk mengatakan bahwa superkomputer tersebut akan digunakan oleh organisasi nirlaba. Namun momen tersebut kini terasa simbolis, mengingat OpenAI telah jauh meninggalkan bentuk awalnya.

Pada Oktober lalu, OpenAI mengumumkan rekapitalisasi besar. Struktur barunya menegaskan bahwa organisasi nirlaba tetap memegang saham pengendali, sementara unit bisnisnya kini beroperasi sebagai perusahaan publik bernama OpenAI Group PBC.

Sebuah Kisah yang Belum Usai

Pada akhirnya, kisah Elon Musk dan Sam Altman di OpenAI bukan sekadar cerita tentang dua tokoh besar yang berseteru. Ini adalah refleksi dari dinamika industri AI modern—antara idealisme, kebutuhan modal, kekuasaan teknologi, dan ambisi global.

Pertarungan ini masih berlangsung, dan dampaknya akan menentukan arah kecerdasan buatan dunia. Dari ruang rapat kecil di San Francisco hingga pusat data raksasa bernilai triliunan dolar, kisah ini membuktikan satu hal: dalam dunia AI, visi besar bisa menyatukan—dan juga memecah—para pionirnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button