Steam Machine Valve Cuma 8 GB VRAM, Tapi Ngaku Bisa 4K 60 FPS—Serius?

Dexop.com – Industri gaming global kembali diguncang setelah Valve resmi mengumumkan spesifikasi perangkat terbaru mereka—Steam Machine Valve—yang dijadwalkan rilis awal 2026. Bukannya memamerkan kekuatan monster, Valve justru membuat keputusan kontroversial: perangkat ini hanya dibekali 8 GB VRAM GDDR6, jumlah memori grafis yang bahkan sudah dianggap minimal untuk game AAA tahun 2024–2025.
Lantas, bagaimana mungkin Steam Machine Valve dengan VRAM “seiprit” itu berani mengklaim sanggup menjalankan game 4K 60 FPS? Apakah Valve menemukan formula ajaib? Atau ini sekadar strategi marketing yang overhype? Pertanyaan itu memicu perdebatan panas di komunitas gamer, tech reviewer, hingga analis hardware di seluruh dunia.
Mari kita bedah tuntas.
Spesifikasi Steam Machine Valve: Kompak, Modern, Tapi Hemat Memori
Valve tidak hanya mengumumkan VRAM, tetapi seluruh spesifikasi Steam Machine Valve. Dan harus diakui, perangkat ini memang punya konsep unik:
🔹 CPU
AMD Zen 4 Custom-Chip (semi-kustom, mirip arsitektur Steam Deck tetapi jauh lebih modern)
🔹 GPU
RDNA 3
28 Compute Units
Clock speed sekitar 2.45 GHz
🔹 VRAM
8 GB GDDR6
🔹 Sistem Operasi
SteamOS 3 berbasis Arch Linux
Antarmuka desktop: KDE Plasma
🔹 Ukuran & Bobot
Tinggi 152 mm
Berat 2.6 kg (cukup ringan untuk ukuran “console-PC hybrid”)
🔹 Port & Konektivitas
- DisplayPort 1.4 → 4K @ 240 Hz
- HDMI 2.0 → 4K @ 120 Hz
- HDR + FreeSync Support
- USB-C & USB-A
- Ethernet
SteamOS generasi terbaru menjadi andalan utama. Dengan ekosistem Proton yang semakin matang, kompatibilitas game Windows ke Linux kini jauh lebih stabil.
Namun tetap saja, angka 8 GB VRAM menjadi titik fokus kritik. Bahkan kartu grafis entry-level saat ini sudah mulai meninggalkan angka itu.
Kenapa VRAM 8 GB Sangat Kontroversial?
Selama tiga tahun terakhir, gamer sudah bosan memprotes GPU yang hanya punya 8 GB VRAM.
Contoh kasus:
- RTX 4060 / RTX 5060 dikritik habis-habisan
- RX 7600 / RX 9060 dianggap terlalu minimalis
- Game modern seperti Starfield, Alan Wake 2, dan The Last of Us Part I sering makan VRAM 12–16 GB
- Texture pack resolusi tinggi kini menjadi standar
Dalam konteks itu, Steam Machine Valve terasa seperti melangkah mundur. Bahkan di tahun 2026, angka 8 GB VRAM bisa jadi tidak relevan lagi bagi AAA gaming.
Tetapi di titik ini, Valve melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan Valve: mereka tidak peduli arus industri.
Klaim 4K 60 FPS: Bukan Native, Tapi FSR
Valve mengklaim Steam Machine mampu mencapai 4K 60 FPS, tetapi ada catatan kecil:
4K 60 FPS hanya mungkin menggunakan upscaling AMD FSR, bukan resolusi native.
Ini adalah trik pintar. Alih-alih memaksa GPU bekerja di resolusi 4K, FSR memproses gambar pada resolusi lebih rendah (misal 1080p atau 1440p), kemudian meng-upscale secara pintar menjadi 4K.
Metode ini sudah terbukti kuat:
- PlayStation 5 memakainya
- Xbox Series X memakainya
- Bahkan GPU high-end juga menggunakannya untuk performa ekstra
Tanpa FSR, Steam Machine Valve hanya cukup untuk gaming 1080p.
Dan Valve tahu itu.
Flashback: Steam Deck Juga Dianggap “Lemah”, Tapi…
Saat Steam Deck rilis 2022, banyak yang mencibir:
- “GPU-nya kecil!”
- “Layarnya cuma 800p!”
- “Linux? Siapa yang mau main game di Linux?”
Namun Steam Deck justru sukses besar berkat:
✔ “Optimized For Steam Deck”
Developer menyesuaikan game agar berjalan stabil di perangkat lemah.
✔ Proton makin matang
Ribuan game Windows bisa dimainkan di Linux dengan lancar.
✔ Valve rajin update software
Kini Valve mencoba mengulang resep sukses itu di skala lebih besar melalui Steam Machine Valve.
Battle Konsol 2026: Steam Machine Valve vs PS5 vs Xbox Series X
Agar lebih jelas, mari kita bandingkan secara gamblang.
| Konsol | Compute Units | VRAM | Arsitektur |
|---|---|---|---|
| Steam Machine Valve | 28 CU | 8 GB GDDR6 | RDNA 3 |
| PlayStation 5 | 36 CU | 16 GB GDDR6 | RDNA 2 |
| Xbox Series X | 52 CU | 10 GB + 6 GB | RDNA 2 |
Interpretasi sederhana:
- Steam Machine Valve menang arsitektur (lebih modern)
- PS5 dan Xbox unggul besar di compute power
- VRAM Steam Machine ketinggalan jauh
Dari sini muncul pertanyaan besar:
Bisakah Steam Machine Valve bersaing di ruang yang sama?
Jawabannya: Valve tidak mencoba bersaing dengan cara tradisional.
Developer Akan “Diarahkan” Optimisasi VRAM Rendah
Suka atau tidak, Valve adalah salah satu pemain paling berpengaruh dalam industri game PC. Karena:
- Steam adalah platform distribusi game terbesar di dunia
- Developer ingin game-nya laku
- Opsi optimisasi VRAM rendah sudah terbukti berhasil di Steam Deck
Jika Steam Machine Valve laku keras, developer akan:
- menurunkan texture default
- membuat “Steam Machine optimized” preset
- meminimalkan penggunaan VRAM
- mengurangi stuttering shader
- memadatkan asset
Artinya, hardware yang tampil lemah bisa hidup lebih lama.
Ini sama seperti bagaimana PlayStation berhasil membuat game eksklusif tinggi kualitas meskipun hardware generasinya tidak terlalu kuat.
Ada Tren Baru: Gaming Tidak Lagi Bergantung “Raw Power”
Dunia gaming sedang bergerak menuju:
- upscaling AI
- frame generation
- VRAM compression
- dynamic texture loading
- shader pre-caching
- machine learning optimization
Dengan semua teknologi itu, perangkat seperti Steam Machine Valve tidak perlu punya spesifikasi monster untuk menjalankan game AAA.
Justru optimisasi cerdas + software pintar bisa mengalahkan kekuatan hardware mentah.
Harga Akan Menentukan Hidup-Matinya Steam Machine Valve
Semua ini tidak akan penting jika harga Steam Machine Valve tidak kompetitif.
Jika harganya di kisaran:
- USD 399–499 → besar peluang sukses
- USD 599–699 → masih bisa bersaing
- USD 799+ → hampir pasti gagal
Valve sudah pernah gagal dengan Steam Machine generasi pertama tahun 2015 karena:
- hardware mahal
- performa rendah
- game kompatibel terbatas
Namun kondisi sudah sangat berbeda:
- Proton matang
- Linux gaming booming
- Steam Deck sukses
- developer lebih siap
Steam Machine Valve bisa saja sukses jika harganya benar.
Steam Machine Valve Bukan Pengganti PC Gaming
Valve sepertinya tidak mencoba menjadikan Steam Machine Valve sebagai:
❌ pengganti PC high-end
❌ penantang PS5 secara langsung
❌ konsol generasi baru saingan Xbox
Sebaliknya, perangkat ini ingin menjadi:
✔ konsol PC sederhana
✔ cukup kuat untuk gaming 1080p
✔ mendukung 4K via FSR
✔ terintegrasi penuh dengan SteamOS
✔ bagian dari ekosistem Steam yang makin luas
Dengan Steam Deck (mobile), Steam Machine (console), dan PC Linux (desktop), Valve ingin menghadirkan Steam Ecosystem Everywhere.
Berani, Kontroversial, Tapi Bisa Berhasil
Keputusan VRAM 8 GB memang membuat banyak orang mengernyit. Tetapi Valve bukan perusahaan yang membuat keputusan tanpa alasan.
Realita 2026
- Banyak game masih mendukung 8 GB dengan optimisasi benar
- FSR dan upscaling makin canggih
- Software penting, bukan hanya hardware
- SteamOS kini matang
- Developer mau menyesuaikan
Jika Valve memainkan kartunya dengan tepat, Steam Machine Valve bisa menjadi perangkat yang:
- affordable
- efisien
- powerful di kelasnya
- ramah developer
- dan terintegrasi dalam ekosistem Steam
Tetapi jika harga terlalu mahal, atau developer malas mengoptimalkan game dengan VRAM rendah, perangkat ini bisa mengulang sejarah pahit tahun 2015.
Untuk sekarang, satu hal pasti:
Steam Machine Valve kembali membuat industri gaming ramai, meski hanya dengan 8 GB VRAM.




