Software

Red Hat AI 3 Hadirkan Inferensi Terdistribusi, Siap Bawa AI ke Level Produksi Nyata

Dexop.com – Red Hat resmi memperkenalkan Red Hat AI 3, platform open source enterprise AI terbaru yang dirancang untuk membantu perusahaan mengoperasionalkan kecerdasan buatan (AI) secara efisien dan terukur di dunia nyata.
Peluncuran ini menandai langkah besar Red Hat dalam memperluas peranannya di sektor AI enterprise dan hybrid cloud, menjembatani kesenjangan antara riset dan penerapan AI di skala produksi.

Dalam pernyataannya, Joe Fernandes, Vice President & General Manager AI Business Unit Red Hat, mengatakan bahwa banyak perusahaan menghadapi tantangan saat beralih dari tahap eksperimen AI ke fase implementasi.

“Dengan Red Hat AI 3, kami menghadirkan platform open source kelas enterprise yang menyederhanakan kompleksitas inferensi AI dalam skala besar. Kami ingin membuat organisasi lebih percaya diri dalam menjalankan AI generasi berikutnya,” ujarnya.

Platform ini hadir dengan tiga komponen utama — Red Hat AI Inference Server, Red Hat Enterprise Linux AI (RHEL AI), dan Red Hat OpenShift AI — yang bekerja sinergis untuk menghadirkan kemampuan inferensi terdistribusi, pengelolaan model generatif AI (GenAI), hingga dukungan bagi sistem Agentic AI di masa depan.

Fokus Baru: Dari Pelatihan ke Inferensi Produksi

Selama beberapa tahun terakhir, mayoritas organisasi berfokus pada pelatihan model AI (AI training) dan menganggapnya sebagai inti dari transformasi digital. Namun, tantangan sebenarnya muncul saat model tersebut harus diterapkan dalam lingkungan produksi.

Fase inferensi — proses menjalankan model untuk menghasilkan hasil nyata — menjadi tahap paling kritis dan kompleks.

Dengan Red Hat AI 3, Red Hat mengalihkan fokus industri dari sekadar pelatihan ke inferensi produksi berskala besar, dengan menekankan tiga prinsip utama:

  1. Efisiensi komputasi – Mengurangi biaya dan waktu inferensi.

  2. Skalabilitas horizontal – Memperluas performa tanpa mengorbankan stabilitas.

  3. Konsistensi hasil – Memastikan prediksi dan output AI bisa diandalkan.

Teknologi Kunci: llm-d dan vLLM

Inti inovasi Red Hat AI 3 terletak pada teknologi llm-d (distributed LLM inference) yang dikembangkan di atas vLLM, mesin inferensi open source berperforma tinggi.

Dengan dukungan llm-d, perusahaan kini dapat menjalankan model AI besar (Large Language Model / LLM) secara terdistribusi di lingkungan Kubernetes, memanfaatkan kekuatan multi-node untuk meningkatkan throughput dan menurunkan latensi.

Teknologi llm-d memanfaatkan:

  • Kubernetes Gateway API Inference Extension – untuk orkestrasi skala besar.

  • NVIDIA Dynamo (NIXL) – transfer data berlatensi rendah antar-GPU.

  • DeepEP MoE (Mixture of Experts) – sistem komunikasi antar-model AI cerdas.

Hasilnya, Red Hat AI 3 mampu menjalankan inferensi LLM lebih cepat hingga 40{52410bde5da3c78d2dec59bf733f1a9d51dcc1ca76509077eea26fa1bd989847} dibandingkan versi sebelumnya.
Performa tinggi ini juga berlaku lintas platform, dengan dukungan GPU dari NVIDIA, AMD Instinct, hingga Intel Gaudi.

“Dengan inferensi terdistribusi llm-d, organisasi dapat menghemat biaya dan mempercepat waktu respons model AI tanpa kehilangan akurasi,” jelas Fernandes.

Integrasi Mendalam dengan OpenShift dan RHEL AI

Red Hat AI 3 bukan platform yang berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari ekosistem Red Hat AI yang lebih luas, terdiri atas:

  • Red Hat OpenShift AI – platform orkestrasi kontainer untuk deployment model AI di hybrid cloud.

  • RHEL AI (Red Hat Enterprise Linux AI) – sistem operasi yang dioptimalkan untuk workload AI, termasuk pustaka inferensi, GPU drivers, dan kernel tuning.

  • AI Inference Server – pusat inferensi model yang mendukung koneksi lintas aplikasi dan API.

Kombinasi ini menciptakan pipeline AI terpadu, dari pelatihan hingga deployment, yang memungkinkan tim IT dan AI engineer berkolaborasi di satu lingkungan yang konsisten.

Model as a Service (MaaS): AI Internal yang Fleksibel

Salah satu fitur paling menarik dalam Red Hat AI 3 adalah kemampuan Model as a Service (MaaS) — memungkinkan tim IT menjalankan model AI internal layaknya layanan cloud publik.

Fitur ini membuat perusahaan bisa:

  • Menyajikan model AI secara terpusat untuk seluruh departemen.

  • Mengontrol biaya penggunaan GPU secara efisien.

  • Menjaga privasi data sensitif di lingkungan on-premise.

Dengan MaaS, Red Hat AI 3 mendukung perusahaan yang tak bisa atau tak ingin menggunakan layanan AI publik karena alasan keamanan data atau regulasi.

AI Hub dan Gen AI Studio: Kolaborasi dalam Satu Platform

Untuk memperkuat kolaborasi, Red Hat memperkenalkan dua fitur besar dalam Red Hat AI 3:

AI Hub

Merupakan pusat pengelolaan seluruh aset AI organisasi.
Fungsinya meliputi:

  • Menyimpan dan mengelola model AI.

  • Menyediakan katalog model yang tervalidasi.

  • Mengawasi performa dan keamanan model.

AI Hub berperan seperti registry terpusat tempat tim engineer dan developer bisa berbagi dan mengakses model dengan cepat.

Gen AI Studio

Sementara Gen AI Studio berfungsi sebagai playground interaktif bagi pengembang untuk membuat dan menguji aplikasi generatif AI (GenAI).
Engineer dapat:

  • Membangun prototipe chatbot atau sistem rekomendasi.

  • Menjalankan prompt testing untuk retrieval-augmented generation (RAG).

  • Menyesuaikan parameter model sesuai use case bisnis.

Gen AI Studio juga dilengkapi AI asset endpoint, yang memudahkan integrasi antar-aplikasi dan layanan eksternal.

Fondasi Agentic AI: Membangun Agen Cerdas Generasi Berikutnya

Red Hat menyebut Red Hat AI 3 sebagai fondasi menuju Agentic AI, yaitu sistem AI yang mampu bekerja secara otonom dan mengambil keputusan multi-tahap.

Untuk mendukung arah ini, Red Hat memperkenalkan:

  • Unified API Layer berbasis Llama Stack, untuk menyelaraskan pengembangan dengan standar OpenAI API.

  • Model Context Protocol (MCP), protokol baru yang memudahkan model AI berinteraksi dengan alat eksternal secara aman dan interoperable.

  • Toolkit modular berbasis InstructLab, pustaka Python open source untuk fine-tuning, pembuatan data sintetis, dan evaluasi performa model.

Dengan kombinasi ini, Red Hat AI 3 menjadi platform yang siap menghadapi AI generatif otonom (Agentic AI) di masa depan.

Dukungan Industri dan Mitra Teknologi

Peluncuran Red Hat AI 3 mendapat dukungan luas dari berbagai pemain besar di industri teknologi.

Dan McNamara, Senior Vice President & General Manager Server and Enterprise AI AMD, menyatakan:

“Kolaborasi kami dengan Red Hat menghadirkan integrasi penuh antara prosesor AMD EPYC™, GPU AMD Instinct™, dan software ROCm™ untuk mempercepat inferensi AI enterprise.”

Sementara itu, Ujval Kapasi, Vice President Engineering AI Frameworks NVIDIA, menegaskan bahwa inferensi terdistribusi menjadi pilar utama menuju masa depan AI.

“Red Hat AI 3 memanfaatkan NVIDIA Dynamo dan NIXL untuk menyediakan inferensi terakselerasi dalam skala besar dengan efisiensi luar biasa.”

Dukungan lintas vendor ini menegaskan posisi Red Hat AI 3 sebagai platform AI enterprise paling fleksibel di pasar global.

Studi Kasus Nyata: ARSAT Argentina

Implementasi awal Red Hat AI 3 sudah menunjukkan hasil nyata.
ARSAT, penyedia infrastruktur konektivitas nasional di Argentina, memanfaatkan Red Hat OpenShift AI 3.0 untuk membangun sistem agentic AI yang siap produksi hanya dalam 45 hari.

Mariano Greco, CEO ARSAT, mengungkapkan:

“Dengan Red Hat OpenShift AI, kami memangkas waktu implementasi AI dari berbulan-bulan menjadi hitungan minggu. Tim engineer kami kini fokus pada inovasi, bukan sekadar pemeliharaan.”

Kasus ARSAT menjadi bukti nyata bagaimana Red Hat AI 3 mempercepat transformasi digital berbasis AI di dunia enterprise.

Perspektif IDC: AI Enterprise Memasuki Titik Kematangan

Menurut Rick Villars, Group Vice President Worldwide Research IDC, tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi perusahaan dalam memanfaatkan AI.

“Organisasi tidak lagi puas hanya dengan eksperimen AI. Mereka menginginkan outcome bisnis yang terukur. Platform seperti Red Hat AI 3 akan menjadi fondasi utama untuk mencapai hal itu.”

Villars menambahkan bahwa kemampuan Red Hat AI 3 dalam mengelola beban kerja AI di lingkungan hybrid cloud menjadi nilai jual utama di tengah meningkatnya kompleksitas infrastruktur AI global.

Red Hat AI 3 dan Tren Global AI Enterprise

Industri kini bergerak cepat menuju AI yang lebih terbuka, modular, dan interoperable.
Perusahaan seperti Google, IBM, dan Huawei pun berlomba menghadirkan AI platform berbasis open ecosystem, namun Red Hat memiliki diferensiasi kuat: transparansi, kolaborasi komunitas, dan integrasi hybrid cloud-native.

Dengan Red Hat AI 3, organisasi dapat menjalankan model AI lintas vendor, memanfaatkan akselerator GPU yang berbeda, dan mengelola workload di berbagai cloud tanpa ketergantungan vendor tertentu (vendor lock-in).

Kesimpulan: Red Hat AI 3, Tonggak Baru AI Enterprise

Dengan kehadiran Red Hat AI 3, lanskap AI enterprise resmi memasuki babak baru.
Platform ini menghadirkan kombinasi unik antara inferensi terdistribusi, kolaborasi lintas tim, dan fondasi kuat untuk Agentic AI.

Red Hat berhasil menjawab tiga tantangan utama dunia enterprise AI:

  1. Kompleksitas teknis di tahap produksi.

  2. Efisiensi biaya inferensi.

  3. Kebutuhan interoperabilitas di lingkungan hybrid cloud.

Red Hat AI 3 bukan sekadar platform inferensi — ini adalah langkah nyata menuju masa depan AI enterprise yang terbuka, skalabel, dan siap produksi,” tutup Joe Fernandes.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button