Skandal Chip Nvidia Rp 16 Triliun: Diselundupkan ke China, Pasar Gelap AI Makin Ganas!

Dexop.com – Dunia teknologi kembali diguncang oleh kabar mencengangkan. Investigasi terbaru dari Financial Times mengungkap bahwa chip Nvidia senilai lebih dari Rp 16 triliun diduga kuat telah diselundupkan ke China, meskipun Pemerintah Amerika Serikat secara resmi melarang ekspor chip AI berteknologi tinggi ke negara tersebut.
Kabar ini langsung menyita perhatian publik internasional, karena menyangkut urusan geopolitik, perang dagang, dan dominasi teknologi kecerdasan buatan (AI) antara dua raksasa dunia: Amerika Serikat dan China.
Lantas, bagaimana detail praktik penyelundupan chip Nvidia ini? Apa dampaknya bagi industri AI global? Dan bagaimana respons Nvidia sendiri?
Latar Belakang Pembatasan Ekspor Chip Nvidia ke China
Ketegangan antara AS dan China dalam hal teknologi bukanlah hal baru. Sejak era Presiden Donald Trump, pemerintahan Amerika telah memberlakukan sejumlah pembatasan ekspor teknologi mutakhir, termasuk chip Nvidia tipe H20 dan B200, yang sangat dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI skala besar.
AS berdalih bahwa penjualan chip Nvidia berpotensi mempercepat dominasi teknologi China, terutama di sektor militer dan keamanan siber. Maka, melalui Departemen Perdagangan AS, pemerintah memperketat lisensi ekspor, melarang perusahaan semikonduktor seperti Nvidia dan AMD untuk menjual produk-produk canggih mereka ke China.
Namun, pembatasan ini ternyata malah mendorong tumbuhnya pasar gelap chip AI, dengan chip Nvidia sebagai komoditas utamanya.
Investigasi Financial Times: Chip Nvidia Masuk Secara Diam-Diam
Dalam laporan yang dipublikasikan pada Juli 2025, Financial Times menyatakan bahwa chip Nvidia senilai sekitar USD 1 miliar atau Rp 16 triliun telah beredar di China secara ilegal.
Chip-chip tersebut, yang seharusnya dibatasi ekspornya, dikabarkan masuk ke pasar China melalui jalur tidak resmi, termasuk jalur distribusi gelap, penyelundupan fisik lewat negara ketiga, dan penggunaan identitas perusahaan palsu.
Beberapa distributor dan reseller di China bahkan secara terbuka memasarkan chip Nvidia di platform komunikasi tertutup seperti WeChat dan forum B2B lokal, dengan target pelanggan utama adalah pemasok pusat data dan startup AI lokal.
Chip Nvidia Jadi Rebutan: Siapa yang Membeli?
Menurut laporan FT, perusahaan-perusahaan China yang tengah mengembangkan model AI generatif, layanan cloud, dan perangkat keras pintar menjadi pembeli utama chip Nvidia selundupan.
Mereka sangat membutuhkan chip Nvidia jenis H20, H100, dan B200, karena chip-chip ini mampu menangani beban kerja komputasi yang sangat besar, khususnya untuk pelatihan dan inferensi AI skala besar, termasuk dalam large language model (LLM) seperti GPT dan ErnieBot milik Baidu.
Dalam praktiknya, chip Nvidia ini digunakan untuk membangun pusat data berskala masif—mirip dengan yang digunakan oleh OpenAI, Google, atau Meta di Amerika.
Respons Tegas dari Nvidia: Tidak Ada Dukungan untuk Produk Selundupan
Nvidia sendiri tidak tinggal diam. Dalam pernyataan resmi yang dikutip media internasional, perusahaan menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan dukungan teknis maupun layanan purnajual terhadap produk chip yang diperoleh melalui jalur ilegal.
“Mencoba merakit pusat data dari produk selundupan adalah keputusan yang sangat merugikan, baik secara teknis maupun ekonomis,” ujar juru bicara Nvidia, dikutip oleh tabengan.com.
Nvidia juga menekankan bahwa chip selundupan berisiko tidak mendapatkan pembaruan firmware, dukungan perangkat lunak, atau jaminan keandalan dalam jangka panjang. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi perusahaan China yang mencoba memanfaatkan celah distribusi ini.
Kebijakan AS: Melindungi Dominasi AI atau Menghambat Persaingan?
Keputusan AS untuk membatasi ekspor chip Nvidia berakar dari kekhawatiran geopolitik dan keamanan nasional. Washington tidak ingin teknologi Amerika digunakan untuk memperkuat posisi China dalam AI militer, pengawasan, dan teknologi strategis lainnya.
Namun, kebijakan ini juga menuai kritik karena bisa menghambat inovasi global dan menciptakan distorsi pasar. Sebagian pihak menilai bahwa pelarangan total justru mendorong praktik penyelundupan dan pasar gelap, sebagaimana yang kini terbukti terjadi.
Persaingan Chip AI: China Kembangkan Alternatif Lokal
Di sisi lain, China tak tinggal diam dalam menghadapi embargo AS. Perusahaan seperti Huawei, SMIC, dan Tianshu Zhixin terus mengembangkan chip AI dalam negeri.
Huawei bahkan telah berhasil memproduksi chip 3nm, sementara SMIC menggandeng lembaga riset untuk mempercepat pengembangan GPU setara Nvidia H100. Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun akses ke chip Nvidia dibatasi, China tidak akan menyerah dalam pertempuran supremasi AI.
Akibat Penyelundupan Chip Nvidia: Implikasi Jangka Panjang
1. Ancaman Terhadap Stabilitas Pasar Teknologi
Masuknya chip Nvidia secara ilegal ke China dapat menimbulkan ketidakstabilan pasar, terutama jika penawaran dan permintaan chip tidak sesuai dengan data ekspor resmi. Hal ini bisa menyebabkan gejolak harga, overheating pasar AI, dan kerugian finansial bagi produsen resmi.
2. Meningkatnya Risiko Keamanan Global
Jika chip Nvidia digunakan untuk pengembangan sistem militer atau alat pengawasan otoriter, ini bisa memicu ketegangan diplomatik dan balas embargo. AS, Eropa, dan sekutu-sekutunya mungkin akan memperketat regulasi lebih lanjut.
3. Potensi Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual
Chip yang diperoleh melalui jalur tidak resmi berisiko menjadi target rekayasa balik (reverse engineering), yang dapat membahayakan hak paten dan teknologi milik Nvidia.
Nvidia Berjuang Menjaga Reputasi dan Pasar Global
Di tengah tekanan geopolitik, chip Nvidia tetap menjadi produk yang paling dicari di dunia AI. Perusahaan berusaha menjaga kredibilitasnya dengan tetap patuh pada regulasi AS, namun di sisi lain juga menghadapi dilema: menjaga pertumbuhan bisnis di pasar global, termasuk China, yang notabene adalah pasar kedua terbesar mereka.
CEO Nvidia, Jensen Huang, sempat mengindikasikan bahwa perusahaan masih akan menjual chip H20 ke China, namun dengan penyesuaian desain agar sesuai regulasi ekspor. Hal ini menunjukkan strategi “jalan tengah” untuk tetap hadir di pasar China tanpa melanggar aturan AS.
Penutup: Perang Chip Belum Usai, Dunia Harus Waspada
Penyelundupan chip Nvidia senilai Rp 16 triliun ini menjadi sinyal keras bahwa perang teknologi antara Amerika Serikat dan China semakin memanas. Di satu sisi, embargo dan sanksi tak selalu berhasil menghalangi ambisi China. Di sisi lain, perusahaan seperti Nvidia berada di tengah dilema antara kepatuhan dan profitabilitas.
Kini, bukan hanya pemerintah dan perusahaan besar yang perlu waspada, tetapi juga seluruh ekosistem teknologi global. Karena ketika chip Nvidia beralih tangan secara ilegal, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keuntungan—melainkan juga keamanan dunia.



