Dexop.com – Realme, brand teknologi asal Tiongkok yang dikenal lewat ponsel murah berkualitas, kini mengumumkan perubahan besar dalam strategi bisnisnya di India. Setelah lama bermain di kelas entry-level, Realme kini bersiap naik kelas dengan menggarap pasar smartphone premium secara serius. Langkah ini diyakini akan mengubah peta persaingan di pasar ponsel India dan Asia Tenggara.
Strategi Realme Berubah Total: Fokus ke Premium, Tinggalkan Model Terlalu Banyak
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Francis Wong, Chief Marketing Officer (CMO) Realme India, menyatakan bahwa perusahaan akan mulai menyederhanakan portofolio produk dan hanya mempertahankan tiga seri utama:
- GT Series (flagship dan performa tinggi),
- Number Series (mid-range),
- P Series (produk gaya hidup online-first).
“Kami tidak lagi ingin menjadi segalanya untuk semua orang. Kami ingin lebih terfokus dan jelas dalam menawarkan nilai ke konsumen,” ujar Wong, yang sebelumnya sukses memimpin Realme Eropa dan kini kembali ke pasar India.
Sebelumnya, Realme dikenal kerap meluncurkan banyak model ponsel dalam waktu singkat, kadang dengan spesifikasi yang terlalu mirip. Hal ini membuat konsumen kebingungan dan strategi brand jadi kurang fokus.
Realme Kurangi Fokus di Harga Rp1 Jutaan, Tak Lagi Kejar Volume
Realme juga mengisyaratkan akan mengurangi peluncuran ponsel di segmen entry-level yang berada di kisaran harga ₹10.000–₹20.000 (sekitar Rp1,9–3,8 juta), sebuah segmen yang sebelumnya menjadi kekuatan utama Realme. Menurut Wong, pasar ini kini sudah terlalu jenuh dan perang harga tidak lagi menguntungkan secara jangka panjang.
Namun, Realme tidak sepenuhnya meninggalkan segmen entry-level, hanya saja mereka kini akan lebih selektif dan tidak mengejar kuantitas. Fokus kini adalah meningkatkan nilai tambah produk, bukan semata-mata memenangi kompetisi harga.
Ciptakan Produk yang Lebih “India-Sentris” Lewat Akademi Desain Lokal
Untuk memperkuat daya saing di pasar India dan pasar global, Realme juga mengumumkan kolaborasi strategis dengan akademi desain lokal. Tujuannya adalah menciptakan produk yang lebih sesuai dengan selera, kebutuhan, dan budaya lokal India, namun tetap punya daya jual di pasar internasional.
Langkah ini dianggap sebagai cara cerdas untuk mendekatkan brand ke konsumen, sekaligus memperluas adopsi desain inovatif di lini produk Realme, dari ponsel hingga ekosistem AIoT seperti TWS dan wearable.
Peluncuran Seri Baru di Diwali, Realme Siapkan Smartphone Online-First
Realme juga tengah mempersiapkan peluncuran lini smartphone baru yang akan difokuskan untuk penjualan online, dan rencananya akan diluncurkan menjelang festival Diwali—periode belanja terbesar di India.
Bersamaan dengan itu, Realme juga akan menggenjot penjualan Realme 15, smartphone terbaru yang baru saja dirilis, dengan harapan bisa mendongkrak performa penjualan selama musim perayaan.
Kedua seri ini akan saling melengkapi: seri baru untuk pengguna online-savvy, dan Realme 15 untuk pengguna offline dan segmen menengah yang menginginkan performa seimbang.
Perluas Kehadiran Offline ke Kota-Kota Kecil
Berbeda dari brand pesaing yang sangat bergantung pada penjualan online, Realme mengedepankan pendekatan hybrid. Mereka mengumumkan akan memperkuat kerja sama dengan jaringan ritel lokal dan memperluas distribusi ke kota-kota kecil di India.
Menurut Wong, keberadaan offline masih sangat penting, terutama untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih personal. Ia percaya bahwa ekspansi offline adalah kunci untuk menumbuhkan loyalitas merek dalam jangka panjang.
Realme Tetap Optimis Meski Pangsa Pasar Turun
Menurut laporan Canalys untuk Q2 2025, pangsa pasar Realme di India turun tipis menjadi 9{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}, dari sebelumnya berada di angka dua digit. Namun pihak Realme melihat ini bukan sebagai penurunan, melainkan fase transisi menuju arah yang lebih berkelanjutan.
“Lebih baik tumbuh lambat tapi sehat, daripada besar namun goyah,” tegas Wong. Ia meyakini bahwa strategi menyederhanakan portofolio dan fokus ke nilai premium akan mulai menunjukkan hasil pada 2026.
Realme Belajar dari Kesalahan Xiaomi?
Langkah Realme ini tampaknya cukup hati-hati dan penuh perhitungan. Xiaomi, kompetitor utama mereka, sempat mencoba peruntungan di segmen premium dengan meluncurkan lini flagship secara agresif. Namun, strategi itu justru membuat pangsa pasar Xiaomi menurun akibat kehilangan fokus di pasar utama mereka.
Berbeda dari Xiaomi, Realme tidak serta-merta menghapus lini murahnya, melainkan memilih pendekatan bertahap dan mengutamakan keseimbangan. Ini menjadikan Realme sebagai pemain yang lebih adaptif dan pragmatis dalam menyikapi perubahan tren pasar.
Ekspansi ke Produk Aksesori: TWS Masih Jadi Fokus
Selain smartphone, Realme juga menaruh perhatian besar pada lini produk aksesoris, terutama earphone nirkabel atau TWS. Beberapa model TWS terbaru yang telah diluncurkan Realme mendapat respon positif karena menawarkan fitur canggih dengan harga terjangkau.
Realme menyadari bahwa ekosistem perangkat pintar menjadi faktor penting dalam memenangkan loyalitas pengguna, dan TWS menjadi salah satu pintu masuknya. Kedepannya, bukan tidak mungkin Realme akan menghadirkan smartwatch, smartband, atau bahkan smart TV dengan pendekatan baru yang lebih terfokus.
Prediksi Analis: Realme Bisa Jadi “Silent Winner”
Beberapa analis industri menyebut bahwa strategi baru Realme adalah perpaduan antara restrukturisasi dan repositioning. Dalam jangka pendek, hasilnya mungkin tidak mencolok. Namun jika dilaksanakan dengan konsisten, Realme bisa menjadi “silent winner”—brand yang secara perlahan naik kelas tanpa banyak noise.
Dalam konteks global, Realme memang belum masuk ke papan atas seperti Apple atau Samsung. Namun, di pasar berkembang seperti India, Asia Tenggara, bahkan Eropa Timur, brand ini punya peluang besar untuk menguasai segmen mid-premium.
Inovasi Teknologi Tetap Jadi Pilar Utama
Dalam pernyataannya, Wong juga memastikan bahwa fokus ke segmen premium tidak berarti Realme akan meninggalkan inovasi. Perusahaan justru ingin menghadirkan teknologi flagship ke lebih banyak pengguna dengan harga yang lebih masuk akal.
Contohnya, pada seri GT yang akan datang, Realme berencana menghadirkan fitur AI generatif, kamera super zoom, dan pengisian daya 100W ke atas. Ini menunjukkan bahwa Realme siap menyandingkan diri dengan pemain besar di segmen flagship.
Tiga Pilar Strategi Baru Realme
Ringkasnya, transformasi strategi Realme kini berdiri di atas tiga pilar utama:
- Simplifikasi Produk: Hanya tiga seri utama—GT, Number, dan P.
- Pendekatan Bertahap ke Premium: Tidak gegabah seperti Xiaomi, tetapi tetap mengakar di pasar lama.
- Ekspansi Offline dan Produk Lokal: Menyasar pengguna di luar kota besar dengan sentuhan lokal.
Masa Depan Realme: Menantang, Tapi Penuh Peluang
Perjalanan Realme ke segmen premium tentu bukan tanpa tantangan. Mereka harus menghadapi ketatnya persaingan dari Samsung, OnePlus, Xiaomi, hingga merek baru seperti Nothing dan Infinix Zero Ultra.
Namun, dengan fondasi yang kuat, strategi yang jelas, dan pemimpin berpengalaman seperti Francis Wong, Realme punya peluang nyata untuk menciptakan kembali identitasnya. Tak hanya sebagai pembuat ponsel murah berkualitas, tetapi juga sebagai penantang serius di panggung premium Asia dan global.
Penutup
Transformasi strategi Realme mencerminkan dinamika pasar smartphone yang terus berubah. Brand yang mampu beradaptasi, mendengar pasar, dan mengutamakan nilai produk akan bertahan. Realme tampaknya paham betul bahwa masa depan bukan hanya soal siapa yang murah, tapi siapa yang cerdas dan relevan.
Langkah Realme menuju segmen premium patut diapresiasi dan diamati. Apakah mereka akan sukses seperti Apple dan Samsung, atau akan tersandung seperti banyak pendahulunya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.












