Pesaing Kecewa! Hakim Putuskan Google Tak Perlu Jual Chrome, Cuma Sharing Data

Dexop.com – Dunia teknologi global kembali diguncang putusan bersejarah dalam kasus antimonopoli Google. Harapan para pesaing untuk melihat Google dipaksa menjual peramban Chrome pupus sudah. Seorang hakim federal Amerika Serikat memutuskan bahwa Google tidak akan diwajibkan melepas Chrome maupun sistem operasi Android, meskipun terbukti memiliki kekuatan monopoli besar.
Sebagai gantinya, Google kini harus membuka sebagian data pencarian daring kepada kompetitor yang memenuhi syarat. Putusan ini menjadi babak baru dalam persaingan bisnis mesin pencari internet, di mana Google masih memegang mahkota, sementara para pesaing hanya mendapat “potongan kue” berupa akses data pencarian.
Sidang Antimonopoli yang Jadi Sorotan Dunia
Kasus ini bermula dari gugatan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) yang menuding Google melakukan praktik monopoli melalui peramban Chrome dan kontrak eksklusif mesin pencari. DOJ bahkan mendorong agar Google dipaksa menjual Chrome demi menciptakan persaingan sehat.
Namun Hakim Distrik AS Amit Mehta menolak desakan itu. Dalam putusan setebal 226 halaman, ia menilai gugatan DOJ melampaui batas.
“Para penggugat bertindak terlalu jauh dalam mengupayakan divestasi paksa atas aset-aset utama ini, yang tidak digunakan Google untuk melakukan pembatasan ilegal apa pun,” tegas Hakim Mehta.
Dengan demikian, Chrome dan Android tetap berada di bawah kendali Google. Tapi Google tak lagi boleh membuat kontrak eksklusif terkait distribusi Google Search, Chrome, Google Assistant, dan aplikasi Gemini.
Google Dipaksa Buka Akses Data Pencarian
Meski selamat dari ancaman penjualan aset, Google tetap harus menerima konsekuensi berat. Hakim memutuskan bahwa Google wajib menyediakan data indeks pencarian serta interaksi pengguna tertentu kepada pesaing yang dianggap memenuhi syarat.
Namun, pengadilan mempersempit ruang lingkup data yang dibagikan. Data iklan digital tidak termasuk dalam kewajiban ini. Alasannya jelas: pasar iklan adalah sumber utama pendapatan Google, dan pengadilan ingin fokus pada inti perilaku anti-monopoli Google di bidang pencarian daring.
Bagi pesaing, akses data ini bisa jadi jalan pintas untuk meningkatkan kualitas algoritma pencarian mereka. Namun, di sisi lain, Google mengkhawatirkan dampaknya terhadap privasi pengguna.
Google Masih Boleh Bayar Apple untuk Search Default
Salah satu poin menarik dari putusan ini adalah pengadilan tidak melarang Google untuk tetap membayar mitra besar seperti Apple.
Artinya, Google masih boleh menggelontorkan miliaran dolar tiap tahun agar Google Search menjadi mesin pencari default di peramban Safari milik Apple.
Hakim menilai, menghentikan pembayaran justru akan menimbulkan “kerugian substansial” bagi mitra distribusi dan konsumen. Dengan kata lain, meskipun disebut monopoli, kerjasama eksklusif antara Google dan Apple masih dianggap sah.
Dominasi Chrome di Pasar Global
Mengapa DOJ begitu ngotot agar Chrome dijual? Jawabannya ada pada pangsa pasar Chrome yang luar biasa dominan.
Menurut data StatCounter Global Statistic per pertengahan 2025:
- Google Chrome: 66{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} – 69{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
- Apple Safari: 17{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} – 18{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
- Microsoft Edge: 5{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
- Mozilla Firefox & lainnya: di bawah 3{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
Dominasi Chrome membuat pesaing nyaris tak punya ruang gerak. Dengan posisi sebesar itu, Google bisa mengarahkan miliaran pengguna ke produk dan layanan lain, termasuk mesin pencari, Gmail, YouTube, hingga aplikasi kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini.
Jika Chrome Dijual: OpenAI, Yahoo, hingga DuckDuckGo Siap Beli
Drama makin panas ketika isu penjualan Chrome mencuat. Beberapa perusahaan besar langsung menunjukkan minat.
- OpenAI: perusahaan AI ini jadi yang pertama secara terbuka menyatakan ketertarikan.
- Yahoo: melihat peluang untuk kembali relevan di dunia mesin pencari.
- DuckDuckGo: ingin memperkuat posisinya sebagai mesin pencari dengan fokus privasi.
Bahkan, menurut analisis, nilai jual Chrome bisa mencapai USD 50 miliar. Angka ini mencerminkan betapa strategisnya Chrome dalam ekosistem digital global.
Namun dengan keputusan hakim, keinginan itu buyar. Para pesaing kini hanya bisa berharap dari akses data pencarian.
Tanggapan Google: Waspada Soal Privasi
Google menyambut putusan ini dengan nada hati-hati. Dalam pernyataan resmi di blog perusahaan, Google menuliskan:
“Kami memiliki kekhawatiran tentang bagaimana persyaratan ini akan memengaruhi pengguna kami dan privasi mereka.”
Google menekankan bahwa data pencarian adalah bagian sensitif dari kehidupan pengguna. Membukanya ke pihak ketiga, meski terbatas, bisa menimbulkan risiko kebocoran informasi atau penyalahgunaan data.
Namun, Google tetap harus menjalankan putusan tersebut sembari mencari cara untuk menjaga privasi pengguna.
Apa Artinya Bagi Pesaing?
Putusan ini bak pedang bermata dua.
- Keuntungan bagi pesaing: akses ke data pencarian Google bisa menjadi modal berharga untuk mengembangkan algoritma. Microsoft Bing, DuckDuckGo, hingga startup mesin pencari baru bisa lebih kompetitif.
- Keterbatasan: tanpa pemisahan Chrome atau Android, distribusi tetap dikuasai Google. Artinya, meski algoritma pesaing makin baik, mereka tetap kesulitan menjangkau pengguna dalam skala besar.
Bagi konsumen, hasil pencarian bisa jadi lebih bervariasi. Namun dalam praktiknya, mayoritas pengguna kemungkinan masih bertahan di ekosistem Google.
Analisis: Google Masih Raja, Tapi Tak Lagi Absolut
Bagi banyak analis teknologi, keputusan ini adalah kompromi. Google masih bisa menjaga aset emasnya — Chrome dan Android — tetapi harus mengorbankan sebagian data pencarian demi menciptakan persaingan yang lebih sehat.
Dengan nilai pasar Chrome yang diprediksi mencapai puluhan miliar dolar, jelas sudah bahwa peramban ini adalah senjata utama Google.
Namun pertanyaan besar tetap menggantung: apakah akses data yang kini diberikan Google benar-benar cukup untuk menciptakan kompetisi yang adil? Atau justru hanya sekadar formalitas hukum tanpa mengubah dominasi Google?
Putusan pengadilan ini menandai babak baru dalam persaingan mesin pencari global.
- Google tak jadi menjual Chrome.
- Android tetap di tangan Google.
- Tapi Google wajib berbagi data pencarian daring.
Para pesaing kecewa karena gagal mendapatkan Chrome, tapi masih mendapat celah lewat akses data. Sementara itu, Google masih kokoh sebagai raja internet, meski kini mahkotanya tidak lagi berdiri setinggi dulu.
Dengan Chrome menguasai hampir 70{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} pangsa pasar global, jelas bahwa persaingan masih jauh dari kata seimbang.
Apakah putusan ini akan membuka jalan bagi munculnya penantang baru? Atau justru makin mempertegas dominasi Google? Dunia teknologi akan terus menunggu jawabannya.




