Dexop.com – Industri konsol global tengah berada dalam fase yang tidak mudah. Daya beli melemah, siklus perangkat keras makin panjang, dan selera gamer berubah cepat. Namun di tengah tekanan tersebut, satu fakta menonjol: penjualan Xbox merosot paling dalam, sementara Nintendo dan Sony PlayStation masih mampu mencatat kinerja relatif kuat.
Kondisi ini kembali memicu pertanyaan lama di kalangan pengamat dan gamer: ada apa dengan Xbox, dan ke mana arah bisnis konsol Microsoft sebenarnya?
Kritik Terbuka dari Mantan Petinggi Microsoft
Sorotan tajam terhadap Xbox tidak hanya datang dari analis pasar, tetapi juga dari orang-orang yang pernah berada di dalam perusahaan. Laura Fryer, mantan produser eksekutif Microsoft Game Studios, secara terbuka menyebut bahwa Xbox tampak “tidak memiliki keinginan, atau bahkan kemampuan, untuk terus mengirimkan perangkat keras.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar nostalgia orang lama. Ia mencerminkan keresahan yang lebih luas bahwa fokus Microsoft terhadap konsol semakin kabur. Kritik serupa dilontarkan Mike Ybarra, mantan eksekutif Microsoft dan eks presiden Blizzard Entertainment. Dalam unggahan di platform X yang kemudian dihapus, Ybarra menyebut strategi Xbox berpotensi membawa perusahaan menuju “kematian perlahan akibat banyak tusukan kecil.”
Dua suara ini memperkuat narasi bahwa penjualan Xbox merosot bukan hanya akibat kondisi pasar, melainkan juga karena arah strategi yang dinilai tidak konsisten.
Data Penjualan: Xbox Paling Terpukul
Laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2026 Microsoft memberikan gambaran yang sulit dibantah. Pendapatan gaming perusahaan turun 2% secara tahunan. Yang paling mencolok, penjualan perangkat keras Xbox tercatat turun hingga 29%.
Pasar konsol secara keseluruhan memang sedang lesu. Data dari Circana menunjukkan belanja perangkat keras game pada November—bulan yang biasanya menjadi periode belanja tersibuk—turun 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan IGN menyebut November lalu sebagai salah satu yang terburuk dalam dua dekade terakhir.
Namun di antara para pemain besar, penjualan Xbox merosot paling tajam. Penjualan Xbox Series S dan Series X dilaporkan anjlok sekitar 70% secara tahunan, jauh lebih dalam dibandingkan penurunan yang dialami PlayStation 5 maupun Nintendo Switch.
Nintendo dan PlayStation Masih Bertahan
Di sisi lain, Nintendo dan Sony masih mampu menjaga momentum. Nintendo melaporkan Switch 2 telah terjual sekitar 10,36 juta unit sejak debutnya pada Juni. Angka ini menunjukkan bahwa ekosistem hybrid Nintendo tetap relevan, terutama bagi pasar keluarga dan gamer kasual.
Sony juga tidak kehilangan daya tarik. PlayStation 5 tercatat terjual sekitar 9,2 juta unit sepanjang 2025. Meski angka ini menurun dibandingkan masa puncak, PS5 masih jauh meninggalkan Xbox dalam hal volume penjualan.
Sebaliknya, Xbox Series S dan Series X hanya mencatat sekitar 1,7 juta unit sepanjang periode yang sama. Ironisnya, angka ini bahkan kalah dari Nintendo Switch generasi pertama—konsol yang dirilis pada 2017—yang masih mampu menjual sekitar 3,4 juta unit.
Perbandingan ini semakin menegaskan bahwa penjualan Xbox merosot bukan sekadar isu sementara, melainkan masalah struktural dalam bisnis konsol Microsoft.
Microsoft Tidak Lagi Mengejar Perang Konsol
Berbeda dengan Sony dan Nintendo yang masih memposisikan diri sebagai perusahaan perangkat keras, Microsoft tampaknya sengaja mengubah medan persaingan. Phil Spencer, CEO Microsoft Gaming, pernah menegaskan bahwa perusahaan tidak lagi berfokus untuk mengungguli Sony atau Nintendo dalam hal penjualan konsol.
Bagi Microsoft, kemenangan tidak diukur dari jumlah unit yang terjual, melainkan dari seberapa luas ekosistem Xbox menjangkau pemain. Pendekatan ini sejalan dengan visi lama Bill Gates tentang ruang keluarga sebagai pusat hiburan digital, bukan sekadar tempat konsol game.
Analis Wedbush, Michael Pachter, menilai strategi ini masuk akal. Menurutnya, pasar yang ingin dijangkau Microsoft adalah “siapa pun yang ingin bermain game,” tanpa terikat pada satu jenis perangkat.
Xbox di Mana-Mana: Dari PC hingga Cloud
CEO Microsoft Satya Nadella semakin memperjelas arah tersebut. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa bisnis game Microsoft akan berupaya hadir “di mana-mana di setiap platform,” mulai dari konsol, PC, TV pintar, hingga perangkat seluler.
Nadella bahkan mempertanyakan dikotomi antara konsol dan PC. Menurutnya, Xbox pada dasarnya dibangun sebagai PC yang dioptimalkan untuk bermain game. Pandangan ini memberi sinyal bahwa konsol Xbox generasi berikutnya kemungkinan akan semakin menyerupai PC, baik dari sisi arsitektur maupun ekosistem.
Pendekatan ini sudah mulai terlihat melalui perangkat genggam Xbox hasil kolaborasi dengan Asus, yang mendukung game lintas platform dan berbagai toko digital PC. Aksesori seperti Backbone Pro juga memperkuat strategi cloud gaming, memungkinkan game Xbox dimainkan di ponsel, PC, dan smart TV.
Tantangan Baru dari Valve
Tekanan terhadap Xbox bertambah dengan langkah Valve yang mengumumkan Steam Machine generasi terbaru. Konsol-PC hybrid ini diproyeksikan mampu menjalankan game Windows melalui SteamOS berbasis Linux, dengan akses langsung ke pustaka Steam yang sangat besar.
The Verge bahkan menyebut perangkat ini sebagai “Xbox yang diimpikan Microsoft,” sebuah sindiran halus bahwa Valve justru berhasil mewujudkan konsep yang selama ini ingin dicapai Xbox. Di tengah kondisi penjualan Xbox merosot, kehadiran Steam Machine berpotensi mempersempit ruang gerak Microsoft di segmen konsol ruang keluarga.
Apakah Xbox Benar-Benar Kalah?
Jika diukur dengan metrik tradisional—jumlah konsol terjual—jawabannya jelas: Xbox tertinggal jauh. Namun Microsoft tampaknya sudah tidak lagi bermain di permainan yang sama. Fokus mereka bukan lagi menjual kotak di bawah TV, melainkan membangun layanan dan ekosistem lintas perangkat.
Pertanyaannya kini lebih strategis: apakah pendekatan “Xbox di mana-mana” mampu menutup kerugian dari penurunan penjualan perangkat keras? Atau justru membuat identitas Xbox sebagai konsol semakin kabur di mata konsumen?
Untuk saat ini, satu hal sulit dibantah: penjualan Xbox merosot di saat Nintendo dan PlayStation masih mampu memanen hasil. Apakah ini sekadar fase transisi menuju model bisnis baru, atau tanda bahwa Xbox benar-benar menyerah di medan konsol, akan menjadi cerita besar industri game dalam beberapa tahun ke depan.












