Nokia Cari Mitra Baru Jelang Berakhirnya Kemitraan dengan HMD Global: Apa Langkah Selanjutnya?

Dexop.com – Raksasa teknologi legendaris asal Finlandia, Nokia, kini berada di titik persimpangan penting dalam sejarah perjalanannya di industri ponsel. Setelah hampir satu dekade menjalin kemitraan lisensi dengan HMD Global, perusahaan tersebut kini dikabarkan tengah mencari mitra baru untuk melanjutkan produksi ponsel bermerek Nokia. Langkah ini menjadi krusial mengingat kerja sama dengan HMD Global akan resmi berakhir pada Maret 2026 mendatang.
Akhir Sebuah Era: Kolaborasi Nokia dan HMD Global
Nokia, yang dahulu pernah merajai pasar ponsel global, telah lama tidak lagi memproduksi ponsel secara langsung. Sejak menjual bisnis ponselnya, perusahaan ini beralih menjadi pemilik merek yang kemudian melisensikannya kepada HMD Global, perusahaan yang berbasis di Finlandia dan didirikan oleh mantan eksekutif Nokia.
Namun, kerja sama strategis itu akan segera berakhir. Dalam sebuah unggahan di platform Reddit, seorang Community Manager Nokia sempat mengonfirmasi bahwa pihak perusahaan tengah mencari mitra baru yang berskala besar untuk melanjutkan lisensi merek ponsel Nokia.
“Jika Anda produsen ponsel berskala besar dan tertarik berkolaborasi, silakan hubungi kami melalui saluran resmi,” tulisnya. Meski unggahan tersebut kemudian dihapus, tangkapan layar pernyataan itu telah tersebar luas di dunia maya.
HMD Global Kurangi Operasi di AS: Pukulan Tambahan bagi Nokia?
Masalah semakin rumit dengan pengumuman terbaru dari pihak HMD Global yang menyatakan akan mengurangi operasional mereka di pasar Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya pada Juli 2025, perusahaan menyebutkan bahwa mereka tengah menghadapi tantangan ekonomi serta persaingan ketat di sektor smartphone.
“Kami memprioritaskan transisi yang mulus bagi pelanggan dan mitra, termasuk dukungan layanan purna jual,” ujar HMD Global dalam pernyataan resminya.
Langkah ini menandakan bahwa HMD Global mungkin akan mengubah arah strategis perusahaan ke model bisnis yang lebih berfokus pada pengembangan merek sendiri seperti “HMD Originals”, ketimbang hanya bertumpu pada lisensi Nokia.
Ke Mana Arah Langkah Nokia Berikutnya?
Tanpa mitra produksi baru, masa depan brand ponsel Nokia sangat dipertaruhkan. Di tengah dominasi merek seperti Samsung, Apple, Xiaomi, Oppo, dan Vivo, Nokia perlu menghadirkan mitra strategis yang tidak hanya kuat secara manufaktur tetapi juga memahami kompleksitas pasar global saat ini.
Di pasar negara berkembang, ponsel fitur Nokia masih memiliki tempat tersendiri. Produk seperti Nokia 105 atau Nokia 3310 Reborn masih laris di pasar Afrika, India, dan Asia Tenggara. Namun, dominasi smartphone berbasis Android dan iOS menuntut Nokia untuk memiliki strategi yang lebih progresif jika ingin tetap eksis.
Mengapa Nokia Tidak Memproduksi Sendiri?
Salah satu pertanyaan yang banyak diajukan oleh para pengamat teknologi adalah: Mengapa Nokia tidak memproduksi ponsel mereka sendiri seperti dulu?
Jawabannya adalah karena Nokia telah mengalihkan fokus bisnis utamanya ke sektor jaringan telekomunikasi dan paten teknologi. Divisi perangkat keras (hardware) telah lama menjadi sektor dengan margin keuntungan tipis, sementara divisi paten dan jaringan memberikan penghasilan stabil dan biaya operasional lebih rendah.
Statistik dan Data Terkini
Menurut laporan IDC dan Canalys, market share global Nokia melalui HMD Global hanya berkisar di angka 0,5{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} hingga 1{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} pada kuartal pertama tahun 2025. Bandingkan dengan Samsung yang menguasai sekitar 20{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}, atau Xiaomi dan Apple yang bergantian di posisi 2 dan 3 dengan angka di atas 10{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}.
Di sektor ponsel fitur (feature phone), Nokia memang masih menjadi salah satu pemimpin pasar, terutama di pasar berkembang. Namun, margin keuntungan di segmen ini jauh lebih kecil dibandingkan smartphone flagship atau mid-range.
Opsi Mitra Strategis: Siapa yang Layak?
Jika Nokia ingin tetap bertahan di industri ponsel, maka mereka harus segera menemukan mitra baru. Beberapa kemungkinan mitra strategis yang bisa dipertimbangkan antara lain:
- Foxconn – Perusahaan manufaktur terbesar di dunia yang memproduksi perangkat untuk Apple, Sony, dan lainnya. Mereka juga memiliki pengalaman menangani produksi ponsel Nokia di masa lalu.
- BBK Electronics – Induk dari Oppo, Vivo, Realme, dan OnePlus. Mereka memiliki kekuatan besar di sektor produksi dan distribusi, serta menguasai pasar global.
- TCL Technology – Sebelumnya sempat memegang lisensi ponsel Alcatel dan BlackBerry. TCL dikenal dengan kekuatan manufakturnya dan ekspansi global.
- Lava atau Micromax – Produsen asal India yang berpotensi menjadi mitra produksi di kawasan Asia Selatan.
Namun, apakah Nokia akan melepas lisensinya ke pemain besar atau justru memilih pendekatan yang lebih konservatif seperti mitra regional, masih menjadi pertanyaan besar.
Harapan dari Penggemar dan Komunitas
Meski tak lagi menjadi pemain dominan, Nokia masih memiliki basis penggemar setia yang berharap akan adanya kebangkitan. Di berbagai forum teknologi seperti XDA Developers dan Reddit, diskusi seputar desain, durability, dan pengalaman masa lalu menggunakan ponsel Nokia masih aktif.
Beberapa saran dari komunitas meliputi:
- Fokus pada keamanan dan privasi pengguna.
- Kembali ke desain ikonik yang membedakan Nokia dari brand lain.
- Menyediakan update sistem operasi yang konsisten dan bebas bloatware.
- Menggarap pasar enterprise dan pendidikan dengan ponsel Android ringan dan hemat daya.
Tantangan Besar di Depan Mata
Namun tentu saja, perjalanan Nokia untuk kembali ke puncak tidak akan mudah. Dunia teknologi telah berubah drastis. R&D (Research and Development) di sektor smartphone membutuhkan investasi miliaran dolar, dan tanpa dukungan dari ekosistem yang kuat (chipset, kamera, software), sulit untuk bersaing.
Selain itu, pasar saat ini didominasi oleh ekosistem tertutup (seperti Apple) atau vendor yang sangat agresif secara harga dan fitur (seperti Xiaomi dan Infinix).
Tenggat Maret 2026: Waktu Terus Berjalan
Dengan kontrak lisensi bersama HMD Global yang akan berakhir pada Maret 2026, Nokia memiliki waktu kurang dari satu tahun untuk menyusun strategi baru. Jika tidak, besar kemungkinan nama Nokia akan kembali tenggelam seperti saat mereka menyerahkan bisnis ponsel ke Microsoft di awal 2010-an.
Meskipun HMD Global kemungkinan akan tetap memproduksi ponsel dengan merek “HMD” sendiri, hilangnya lisensi Nokia dari pasar global akan menjadi akhir dari sebuah era.
Momentum atau Momen Perpisahan?
Bagi para pencinta teknologi dan pengamat industri, langkah Nokia mencari mitra baru bisa menjadi momentum kebangkitan atau justru pertanda akhir dari kiprah mereka di sektor ponsel.
Yang jelas, konsistensi dan kecepatan pengambilan keputusan akan menjadi kunci. Tanpa mitra yang memiliki jaringan distribusi, lini produksi, serta strategi marketing yang mumpuni, nama besar Nokia akan sulit kembali bersaing di tengah industri ponsel yang hiper-kompetitif.




