Home / Travel Destination / Makin Cinta Indonesia di Perbatasan Papua Nugini

Makin Cinta Indonesia di Perbatasan Papua Nugini

Merauke – Jika ingin mencintai Indonesia lebih dalam, berwisatalah ke daerah perbatasan Papua Nugini. Ada rasa haru dan bangga, di titik paling timur tanah Nusantara.

Dalam catatan detikTravel, terdapat dua tempat yang bisa Anda datangi bagi yang mau plesiran ke perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Kedua tempat itu adalah Distrik Sota di Merauke dan Desa Skow di Jayapura.

Untuk di Desa Skow, perbatasan ini terlihat lebih maju dibanding yang ada di Distrik Sota di Merauke. Sudah ada menara pengawas dan deretan toko di sekitarnya yang menjual barang made in Indonesia atau made in Papua Nugini.

Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di Desa Skow, Jayapura (Uksay/d’Traveler)
Menara pengawas di Desa Skow (Bayu Maitra/ACI)

Berbeda di Distrik Sota, ada cerita tentang seorang polisi yang tanpa pamrih membangun taman cantik di wilayah perbatasannya. Ceritanya cukup menyentil hati, bahwa masih ada orang yang peduli dan baik hati, walau itu di ujung timur negara ini. Begini ceritanya…

detikTravel pernah datang ke tempat ini pada event Dream Destination Papua beberapa tahun silam. Distrik Sota berjarak 2 jam lebih dari pusat Kota Merauke, yang dapat ditempuh dengan naik mobil.

Sesampainya di sana, terdapat gapura bertuliskan ‘Good Bye And See You Again Another Day’ dan pos perbatasan. Ucapan penanda selamat tinggal, bahwa di depan Anda adalah titik terakhir Ibu Pertiwi. Ya, di depannya adalah Papua Nugini!

Eits, sebelum tiba di Papua Nugini, kita akan terlebih dulu mendatangi Taman Merah Putih. Taman yang sesuai namanya, dibalut warna merah dan putih. Apalagi, kalau bukan terinspirasi dari warna bendera Indonesia.

Selamat datang di Taman Merah Putih (Afif/detikTravel)

Taman Merah Putih begitu rindang dan rapi. Tepat di bagian tengahnya adalah bendera Merah Putih yang membentang di atas tiang. Kanan-kirinya, banyak bangku-bangku dan gazebo untuk bersantai. Beberapa pernak-pernik khas Papua pun terjaja.

Perhatikan lebih seksama, banyak kata-kata heroik dan nasionalisme di Taman Merah Putih ini. Seperti ‘Untukmu Indonesia, Cintaku Tak Terbatas’, ‘Tekadku Pengabdian Terbaik’, dan tulisan yang paling besar ‘Bahasa Indonesia Penjaga Persatuan dan Kesatuan NKRI’.

Tulisan penggugah jiwa nasionalisme (Afif/detikTravel)

Kata-kata itu sudah cukup menggetarkan hati. Seolah memunculkan rasa patriotisme dalam hati untuk Indonesia. Tak sampai di situ, hati Anda akan lebih bergetar, jika tau siapa pembuat taman ini. Pembuat Taman Merah Putih, adalah Ipda Ma’ruf Suroto, seorang polisi bernama yang sudah bertugas dari tahun 1993 di Distrik Sota.

Tahun 2005, dia mengubah kawasan yang dulunya hanya tanah tandus dan rerumputan menjadi taman yang cantik jelita. Dia melakukannya hanya berdua dengan istrinya, tanpa sepersen pun bantuan pemerintah setempat.

Dulunya hanya semak belukar dan tidak terawat. Lantas dia bersihkan dan menanami pohon-pohon, seperti kayu putih, palem, dan lain-lain. Lalu sengaja dia cat kursi-kursi dan gazebo dengan warna merah putih, agar lebih cinta kepada negeri sendiri.

Ipda Ma’ruf sebagai pembuat Taman Merah Putih (Afif/detikTravel)

Ipda Ma’ruf pun turut menjadi pemandu wisata bagi para wisatawan yang mau bertanya lebih dalam tentang wilayah perbatasan Distrik Sota ini. Tak masalah, selama dia seddang tidak bertugas maka dirinya selalu ada di Taman Merah Putih.

Dari Taman Merah Putih, terdapat semak belukar yang luas dengan rumah-rumah semut yang ukurannya 2-3 meter. Masuk ke dalam semak belukarnya, kita akan menemukan batu kecil berukuran setengah meter dan bertuliskan 23,8. Angka 23,8 menandakan tanggal dan bulan ditandai titik akhir batas timur Indonesia oleh tim survei dari Indonesia dan Australia pada tahun 1967. Inilah tugu perbatasan bagian timur Indonesia yang sebenarnya!

Inilah rupa tanda pembatas paling timur Indonesia (Keken/dTraveler)

150 Meter dari tugu kecil itu adalah zona netral yang artinya sudah masuk juga dalam wilayah Papua Nugini. Dengan melangkahi tugu kecilnya, artinya kita sudah menapakan kaki di Papua Nugini. Wow, keluar negeri!

Pemukiman terdekat adalah Desa Wereafere yang dihuni oleh orang asli Papua Nugini dan berjarak 15 km dari tugu perbatasan itu. Jangan salah, orang-orang Papua Nugini juga sering datang ke Distrik Sota untuk masuk ke Indonesia dan berbelanja atau berdagang.

Perawakan orang-orang Papua Nugini sebelas dua belas dengan orang-orang Papua. Biasanya mereka fasih menggunakan bahasa Inggris dan tidak malu-malu untuk menyapa. Maka sapalah, orang-orang negeri tetangga itu dengan kata-kata yang sering mereka ucapkan jika bertemu orang lain, ‘good day!’.

Ipda Ma’ruf bersama orang-orang Papua Nugini (Afif/detikTravel)

Di Distrik Sota, ada rasa bangga dan haru yang akan Anda rasakan. Rasa bangga karena sudah bisa melihat perbatasan paling timur Indonesia, sedangkan rasa haru dari perjuangan Ipda Ma’ruf untuk menghiasi dan mempercantik wilayah perbatasan ini. Seperti inilah perkataannya…

“Wilayah ini sangat penting, karena ini batas wilayah yang harus kita pertahankan. Kita di sini memang hidup di daerah tertinggal, tapi jangan sampai ditinggal,” kata Ipda Mar’ruf yang masih terngiang di kepala

(aff/fay)

http://travel.detik.com/read/2016/08/11/095020/3272925/1519/makin-cinta-indonesia-di-perbatasan-papua-nugini

Check Also

Ditemukan Turis, Begini Awal Pasir Timbul Raja Ampat Bisa Terkenal

Raja Ampat – Liburan ke Raja Ampat traveler jangan lupa mampir ke Pasir Timbul. Destinasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *