Berita

Inovasi Gila! Drone Hipersonik China dengan Sayap Gunting Mampu Bawa 18 Drone Otonom

×

Inovasi Gila! Drone Hipersonik China dengan Sayap Gunting Mampu Bawa 18 Drone Otonom

Sebarkan artikel ini
Inovasi Gila! Drone Hipersonik China dengan Sayap Gunting Mampu Bawa 18 Drone Otonom

Dexop.com – Dunia militer kembali dikejutkan dengan laporan terbaru bahwa Drone Hipersonik China sedang dikembangkan dengan konsep “sayap gunting” atau oblique wing. Desain unik ini memungkinkan pesawat tak berawak beroperasi pada kecepatan rendah hingga kecepatan sangat tinggi, menjadikannya salah satu proyek paling ambisius dalam sejarah penerbangan militer modern.

Apa Itu Konsep Sayap Gunting?

Konsep sayap gunting atau oblique wing bukanlah ide baru. Teknologi ini pertama kali diuji sejak era 1940-an, bahkan NASA pernah mengembangkan pesawat eksperimental AD-1 pada tahun 1970-an. Namun, tantangan stabilitas dan kontrol membuatnya sulit diterapkan di dunia nyata.

Kini, Drone Hipersonik China mencoba menghidupkan kembali konsep tersebut dengan dukungan teknologi mutakhir:

  • Superkomputer untuk simulasi aerodinamika.

  • Kecerdasan buatan (AI) untuk kontrol penerbangan.

  • Material pintar & tahan panas untuk menahan suhu ekstrem.

Dengan inovasi ini, Drone Hipersonik China berpotensi melesat hingga Mach 5 (6.000 km/jam) di ketinggian 30 km, menjadikannya salah satu sistem senjata udara paling mematikan.

Cara Kerja Drone Hipersonik China dengan Sayap Gunting

Desain Drone Hipersonik China memungkinkan sayapnya berubah posisi sesuai kecepatan:

  • Kecepatan rendah → sayap tegak lurus untuk memudahkan lepas landas & mendarat.

  • Kecepatan tinggi → sayap berputar sejajar dengan badan pesawat, membuat bentuk aerodinamis layaknya panah hipersonik.

Drone ini juga dilengkapi:

  • Canard dan tailplane untuk menjaga kestabilan.

  • Permukaan kontrol aktif untuk manuver.

  • Sensor presisi & sistem kontrol real-time agar perubahan sayap tidak mengganggu stabilitas.

Potensi Militer Drone Hipersonik China

Prototipe Drone Hipersonik China ini dirancang bukan hanya sebagai kendaraan tempur, tetapi juga “induk” drone swarm. Artinya, drone utama mampu membawa 16–18 drone kecil otonom untuk misi serangan.

👉 Strateginya:

  1. Drone induk terbang menembus radar musuh di ketinggian tinggi.

  2. Menjatuhkan puluhan drone kecil di belakang garis pertahanan.

  3. Drone swarm melakukan serangan terkoordinasi.

  4. Drone induk kembali otomatis ke pangkalan.

Konsep ini mirip dengan strategi loyal wingman yang sedang dikembangkan AS, namun dengan fokus lebih besar pada operasi swarm.

Tantangan Teknis

Meski terdengar revolusioner, pengembangan Drone Hipersonik China masih menghadapi tantangan besar:

  • Poros putar sayap harus menahan beban aerodinamis ekstrem.

  • Suhu permukaan luar bisa mencapai lebih dari 1.000°C saat melesat Mach 5.

  • Risiko kegagalan struktural akibat perbedaan suhu di berbagai bagian sayap.

Seorang ahli penerbangan yang dikutip South China Morning Post menekankan bahwa proyek ini memerlukan:

  • Sistem cadangan untuk mengantisipasi kerusakan.

  • Sensor regangan real-time.

  • Mekanisme penguncian darurat agar sayap tidak gagal berfungsi.

Persaingan Teknologi China vs Amerika Serikat

Proyek Drone Hipersonik China tidak bisa dilepaskan dari persaingan geopolitik dengan Amerika Serikat. Kedua negara berlomba menguasai:

  • Teknologi hipersonik (rudal & drone).

  • Semikonduktor & AI untuk aplikasi militer.

  • Pertahanan udara & sistem anti-radar.

Bagi China, menguasai drone hipersonik berarti mendapatkan keunggulan strategis di Asia Pasifik, terutama terkait ketegangan dengan Taiwan.

Bagi AS, dominasi hipersonik China bisa menjadi ancaman bagi aliansi militer di kawasan, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Dampak Global

Jika berhasil dikembangkan, Drone Hipersonik China dengan konsep sayap gunting akan memicu:

  • Perlombaan senjata hipersonik global.

  • Perubahan strategi pertahanan udara dunia.

  • Kebutuhan sistem anti-hipersonik baru.

Negara-negara di Asia Pasifik, termasuk Jepang dan India, kemungkinan besar akan mempercepat pengembangan drone atau rudal hipersonik mereka sebagai respons.

Pengembangan Drone Hipersonik China dengan sayap gunting adalah langkah berani yang bisa merevolusi dunia militer. Meski masih menghadapi banyak tantangan teknis, potensi strategisnya luar biasa besar.

Jika berhasil, drone ini bukan hanya sulit dideteksi radar, tetapi juga mampu meluncurkan serangan swarm yang hampir mustahil dihentikan. Dunia pun bersiap menghadapi babak baru perlombaan teknologi hipersonik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *