Huawei Gugat Transsion di Eropa, Pasar Smartphone Bisa Berubah Total

Dexop.com – Huawei Gugat Transsion di Eropa menjadi berita panas yang menyedot perhatian industri teknologi global. Gugatan ini bukan sekadar sengketa hukum biasa, tetapi bisa menjadi pertarungan strategis yang menentukan masa depan dua raksasa asal Tiongkok di panggung smartphone dunia.
Pada 19 Agustus 2025, Huawei resmi menggugat Transsion Holdings—induk merek Tecno, Infinix, dan iTel—ke Pengadilan Paten Terpadu (Unified Patent Court/UPC) di Munich, Jerman. Tuduhannya: pelanggaran paten teknologi decoding video yang dilindungi paten EP2725797. Teknologi ini dianggap krusial untuk meningkatkan kualitas pemutaran video, salah satu fitur terpenting di era digital saat konten video menjadi raja.
Kasus Huawei Gugat Transsion di Eropa bukan hanya menyangkut hak cipta teknologi, tetapi juga menyangkut reputasi, kekuatan pasar, dan arah persaingan global. Jika Huawei menang, Transsion bisa menghadapi konsekuensi berat: mulai dari denda miliaran, biaya lisensi tambahan, hingga larangan penjualan produk di Eropa—pasar yang sedang mereka garap habis-habisan.
Latar Belakang Sengketa
Huawei menuduh bahwa Transsion telah menggunakan teknologi decoding video miliknya secara ilegal di beberapa perangkat. Berdasarkan laporan dari Fixed Focus Digital di Weibo, teknologi tersebut ditemukan dalam ponsel Tecno dan Infinix tanpa adanya lisensi resmi.
Sebelum Huawei Gugat Transsion di Eropa terjadi, keduanya sudah memiliki sejarah panjang perseteruan. Pada 2019, Huawei pernah menggugat Transsion karena penggunaan kekayaan intelektual tanpa izin dengan tuntutan 20 juta yuan (sekitar USD 2 juta). Meski kasus itu diselesaikan di luar pengadilan, tampaknya ketegangan tidak pernah benar-benar reda.
Huawei sendiri semakin fokus pada perlindungan kekayaan intelektual setelah menghadapi tekanan geopolitik dari Amerika Serikat. Dengan ratusan ribu paten di bidang 5G, kamera, dan multimedia, Huawei kini menjadikan strategi paten sebagai senjata utama untuk bertahan dan menyerang.
Kronologi Perseteruan Huawei vs Transsion (2019–2025)
| Tahun | Peristiwa | Dampak Utama |
|---|---|---|
| 2019 | Huawei menggugat Transsion atas tuduhan penggunaan kekayaan intelektual tanpa izin, menuntut ganti rugi 20 juta yuan. | Kasus diselesaikan di luar pengadilan, hubungan memburuk. |
| 2020 | Huawei ditekan sanksi AS. Transsion memanfaatkan celah dengan ekspansi di Afrika dan Asia Tenggara. | Huawei fokus riset & paten baru. Transsion tumbuh pesat. |
| 2021 | Transsion semakin dominan di Afrika, Huawei memperkuat portofolio paten 5G. | Potensi benturan semakin besar. |
| 2022 | Huawei memperkuat inovasi multimedia, Transsion mulai memamerkan produk di Berlin. | Persaingan masuk ke wilayah Eropa. |
| 2023 | Transsion masuk 10 besar smartphone global, menyalip Apple di Afrika. Huawei menambah paten video & audio. | Persaingan langsung semakin jelas. |
| 2024 | Huawei merilis Pura 70 Ultra, Transsion meluncurkan Phantom V Flip untuk segmen premium. | Benturan teknologi kamera & video makin nyata. |
| 2025 (awal) | Transsion memperluas pasar Eropa, Huawei mematenkan EP2725797. | Jalur tabrakan tak terhindarkan. |
| 2025 (Agustus) | Huawei Gugat Transsion di Eropa di Munich atas dugaan pelanggaran paten video. | Potensi larangan penjualan Transsion di Eropa. |
Analisis Tahunan Sengketa Huawei vs Transsion
2019: Titik Awal
Gugatan pertama Huawei menandai awal konflik. Walaupun diselesaikan di luar pengadilan, peringatan sudah jelas: Huawei tidak akan tinggal diam jika teknologinya digunakan sembarangan.
2020–2021: Perbedaan Strategi
Saat Huawei terpukul akibat sanksi AS, Transsion justru memanfaatkan peluang untuk memperkuat dominasinya di Afrika. Huawei memilih jalan lain, fokus ke riset dan menambah paten.
2022–2023: Persaingan Global
Transsion mulai melirik Eropa, sementara Huawei makin serius memperluas portofolio paten. Inilah momen di mana jalur keduanya semakin beririsan.
2024: Perang di Segmen Premium
Huawei dan Transsion akhirnya berhadapan langsung di segmen premium. Phantom V Flip dari Tecno menantang ponsel lipat Huawei. Konflik paten hanya menunggu waktu.
2025: Klimaks
Huawei Gugat Transsion di Eropa menjadi puncak dari perseteruan panjang. Kali ini, hasil sidang bisa benar-benar menentukan masa depan keduanya di pasar global.
Peran Unified Patent Court
Pengadilan Paten Terpadu di Munich adalah lembaga baru yang punya kekuatan besar. Keputusan mereka berlaku di seluruh Uni Eropa, bukan hanya satu negara. Artinya, jika Huawei menang, larangan penjualan Transsion bisa berlaku di Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, dan negara-negara lain sekaligus.
Inilah alasan mengapa Huawei Gugat Transsion di Eropa menjadi kasus super penting. Dampaknya jauh lebih luas dibanding sengketa paten biasa.
Dampak Potensial Bagi Pasar dan Konsumen
- Harga Smartphone Bisa Naik
Jika Transsion diwajibkan membayar lisensi, harga perangkat bisa naik karena biaya tambahan itu akan dialihkan ke konsumen. - Ketersediaan Produk Bisa Berkurang
Jika larangan penjualan diberlakukan, konsumen Eropa akan kehilangan pilihan produk murah dan menengah dari Transsion. - Persaingan Inovasi Meningkat
Gugatan paten bisa memaksa perusahaan lebih serius berinovasi agar tidak bergantung pada teknologi pesaing.
Huawei: Bertahan Lewat Paten
Sejak terkena embargo AS, Huawei mengubah strategi. Mereka beralih menjadi “raja paten” dengan ribuan paten di bidang 5G, AI, multimedia, dan kamera. Kini, lewat Huawei Gugat Transsion di Eropa, mereka ingin menegaskan bahwa kekuatan inovasi mereka harus dihormati.
Huawei juga belajar dari pengalaman melawan Verizon di AS, di mana mereka berhasil membuktikan posisinya. Dengan reputasi kuat di ranah paten, peluang Huawei menang cukup besar.
Transsion: Ekspansi Agresif yang Terancam
Transsion selama ini identik dengan “pemenang diam-diam.” Mereka sukses menguasai lebih dari 40{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} pangsa pasar Afrika dan kini merambah Eropa serta Asia. Namun, strategi agresif ini bisa berbalik arah jika kasus di Munich dimenangkan Huawei.
Ekspansi yang seharusnya jadi peluang bisa berubah menjadi hambatan besar. Reputasi mereka bisa tercoreng dan ekspansi melambat drastis.
Perspektif Global
Kasus Huawei Gugat Transsion di Eropa juga harus dilihat dalam konteks persaingan global:
- Apple vs Samsung masih memimpin di premium.
- Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Transsion bermain di menengah ke bawah.
- Huawei kini lebih fokus ke paten, AI, dan inovasi kamera.
Jika Huawei menang, bisa jadi tren baru: perusahaan besar mulai lebih sering menggunakan jalur hukum paten sebagai strategi bisnis global.
Kasus Huawei Gugat Transsion di Eropa bukan sekadar sengketa hukum biasa, tetapi juga pertarungan strategi, reputasi, dan masa depan industri smartphone. Huawei ingin melindungi inovasinya, sementara Transsion ingin membuktikan diri sebagai pemain global.
Hasil sidang akan menjadi precedent penting: apakah Eropa akan lebih berpihak pada perlindungan paten atau membuka ruang bagi kompetisi? Apa pun hasilnya, jelas satu hal: dalam industri smartphone, paten adalah senjata utama, dan siapa yang menguasainya, dialah yang berkuasa.



