Aksesoris

Dulu Penguasa, Kini Tercecer: Mengapa Fitbit Kalah di Persaingan Industri Wearable Device?

×

Dulu Penguasa, Kini Tercecer: Mengapa Fitbit Kalah di Persaingan Industri Wearable Device?

Sebarkan artikel ini
Dulu Penguasa, Kini Tercecer: Mengapa Fitbit Kalah di Persaingan Industri Wearable Device?

Dexop.com – Masih ingat dengan Fitbit? Bagi banyak pengguna awal perangkat wearable, Fitbit adalah nama yang tak asing—ikon teknologi kebugaran yang dulu berjaya dan menjadi pelopor pelacak kebugaran (fitness tracker). Namun kini, nama Fitbit kian redup, bahkan nyaris hilang dari radar utama industri wearable device global. Pertanyaannya: apa yang menyebabkan Fitbit terjun bebas dari puncak kejayaannya?

Sekitar satu dekade lalu, Fitbit merupakan raja di pasar wearable. Pada tahun 2015, pangsa pasarnya mencapai angka fantastis, yakni 40{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} dari seluruh industri wearable device dunia. Kapitalisasi pasarnya saat itu menyentuh lebih dari $20 miliar, menjadikan Fitbit merek perangkat kebugaran yang dapat dikenakan paling populer di dunia.

Namun, per Juli 2025 ini, berdasarkan data dari Statista, pangsa pasar Fitbit hanya tersisa 4,2{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}. Jauh di bawah Apple yang kini memimpin dengan pangsa 29,7{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}, disusul Samsung, Xiaomi, dan Huawei.

Apa penyebab kejatuhan Fitbit? Apakah akuisisi oleh Google gagal membawa dampak positif? Dan mengapa perusahaan ini tak mampu memanfaatkan data konsumennya yang sangat besar untuk mengungguli pesaingnya?

 

Sekilas Sejarah Kejayaan Fitbit

Fitbit didirikan pada tahun 2007, dan dengan cepat mendapatkan perhatian karena menawarkan produk pelacak kebugaran kecil nan ringan, dengan fitur dasar seperti menghitung langkah, jarak tempuh, dan kalori terbakar.

Produk-produk awal seperti Fitbit Classic, Ultra, Flex, dan Charge menuai pujian karena kesederhanaannya serta membantu pengguna mengadopsi gaya hidup aktif. Saat itu, belum banyak perusahaan besar yang bermain di ranah wearable fitness.

Namun, seiring waktu, ketika pasar tumbuh subur, para raksasa teknologi mulai melirik peluang ini. Apple, Samsung, Huawei, dan Xiaomi mulai mengembangkan lini wearable device mereka masing-masing dengan teknologi yang lebih mutakhir dan desain yang lebih menarik.

Data Pangsa Pasar Fitbit: Menurun Drastis

Mari kita lihat penurunan pangsa pasar Fitbit dari tahun ke tahun:

  • 2015: 40{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2016: 35{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2017: 30{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2018: 25{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2019: 20{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2020: 15{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2021: 10{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
  • 2022–2025: stagnan di kisaran 4–5{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}

Artinya, dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, Fitbit kehilangan 90{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} lebih dari pangsa pasarnya. Ini bukan sekadar penurunan biasa, melainkan krisis eksistensial yang mengancam keberlangsungan bisnis.

Akuisisi oleh Google: Harapan yang Tak Terwujud

Pada Januari 2021, Google resmi mengakuisisi Fitbit senilai $2,1 miliar. Saat itu, akuisisi ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Google dalam ekosistem perangkat wearable yang terintegrasi dengan Android dan Google Fit.

Namun hingga pertengahan 2025 ini, banyak analis menilai bahwa akuisisi tersebut gagal membalikkan nasib Fitbit. Alih-alih bersaing dengan Apple Watch atau Huawei Watch GT, Fitbit justru semakin tenggelam dalam kebisingan pasar yang dipenuhi fitur-fitur canggih.

Muncul pertanyaan besar: mengapa Fitbit, meski berada di bawah payung Google, tetap tak mampu mengejar kompetitor?

Harga dan Fitur: Dihimpit dari Dua Arah

Fitbit menghadapi tekanan dari dua sisi:

  1. Harga murah dari Xiaomi (Mi Band, Smart Band Series)
  2. Fitur premium dari Apple Watch, Galaxy Watch, dan Huawei Watch

Contohnya, Mi Band dari Xiaomi menawarkan fitur pelacakan kebugaran dasar seharga di bawah $30. Sementara Apple Watch dan Huawei Watch memberikan pengalaman komputasi mikro lengkap dengan fitur kesehatan lanjutan seperti ECG, pengukur oksigen darah (SpO2), pelacakan tidur, deteksi jatuh, dan bahkan pemantauan siklus menstruasi.

Fitbit mencoba merespon dengan meluncurkan Fitbit Ionic dan Versa, namun produk ini tidak cukup mampu menandingi persepsi “premium” dari Apple dan Samsung, juga gagal bersaing harga dengan Xiaomi.

5 Alasan Mengapa Fitbit Semakin Tercecer

Menurut laporan The Emerge (18 Juli 2023), ada lima kegagalan strategis utama yang membuat Fitbit kehilangan keunggulannya:

1. Personalisasi yang Tidak Maksimal

Fitbit memiliki basis data pengguna yang sangat besar, namun gagal menggunakannya untuk menciptakan fitur yang benar-benar personal. Rekomendasi aktivitas, insight kesehatan, hingga pengingat tidak didesain untuk kebutuhan individual secara mendalam seperti Apple Health atau Samsung Health.

Konsumen masa kini menginginkan lebih dari sekadar pelacak langkah—mereka menginginkan asisten kebugaran pribadi di pergelangan tangan mereka.

2. Kurangnya Integrasi Pihak Ketiga

Ekosistem adalah segalanya di era digital. Apple berhasil karena ekosistem iOS mereka saling terhubung. Sayangnya, Fitbit gagal membangun integrasi dengan aplikasi dan platform kesehatan populer seperti MyFitnessPal, Strava, Garmin Connect, dan lainnya.

Akibatnya, pengalaman pengguna menjadi terbatas, dan Fitbit kehilangan potensi untuk menjadi pusat gaya hidup sehat digital.

3. Pemanfaatan Data yang Kurang Maksimal

Fitbit seharusnya dapat memimpin dalam hal data-driven health insights, namun fitur-fitur analitik yang ditawarkan masih sangat mendasar. Pengguna tidak mendapatkan informasi yang bisa ditindaklanjuti, seperti prediksi pola tidur buruk atau deteksi awal masalah kesehatan.

Sementara Apple dan Huawei mulai menggunakan machine learning untuk memberikan insight prediktif, Fitbit masih tertinggal jauh.

4. Komunitas dan Fitur Sosial yang Gagal Berkembang

Pengguna aktif menyukai fitur komunitas yang memungkinkan mereka saling menyemangati atau berkompetisi sehat. Fitbit memang memiliki fitur komunitas, tetapi tidak terlalu interaktif dan terbatas pada tantangan sederhana.

Bandingkan dengan Apple Fitness+ atau Huawei Health yang menyediakan konten video, kelas olahraga virtual, hingga pelatih personal digital.

5. Diferensiasi Produk yang Lemah

Pada akhirnya, Fitbit gagal menciptakan identitas produk yang kuat. Baik desain, fitur, maupun keunggulan teknis tidak cukup kuat untuk membedakan dari pesaing. Produk baru mereka kerap terasa generik dan terlambat masuk pasar.

Fitbit Hari Ini: Masih Ada Harapan?

Meski tertinggal, Fitbit belum sepenuhnya kalah. Mereka masih memiliki basis pengguna loyal, terutama di kalangan pengguna pemula yang tidak membutuhkan fitur-fitur canggih dari Apple Watch.

Selain itu, Fitbit bisa mengoptimalkan kolaborasi lebih erat dengan Google, termasuk:

  • Integrasi mendalam dengan Google Fit dan Pixel Ecosystem
  • Penyempurnaan melalui sistem operasi Wear OS
  • Penggunaan AI dan machine learning untuk rekomendasi kebugaran

Namun, ini semua tergantung pada kemauan Google untuk menjadikan Fitbit sebagai prioritas, bukan sekadar portofolio tambahan.

Tantangan Fitbit di Masa Depan

Untuk kembali relevan, Fitbit harus menghadapi sejumlah tantangan berat:

  • Redefinisi identitas produk: Apakah ingin menyasar segmen murah, menengah, atau premium?
  • Fokus pada integrasi ekosistem Google: Jangan berdiri sendiri—harus jadi bagian dari pengalaman Google secara menyeluruh
  • Investasi pada AI dan data analytics: Manfaatkan data pengguna untuk insight yang personal dan prediktif
  • Penguatan fitur komunitas: Bangun kembali loyalitas melalui platform sosial dan konten kebugaran

Kisah Peringatan dari Fitbit

Kejatuhan Fitbit bukan semata karena teknologi mereka buruk. Sebaliknya, ini adalah pelajaran strategis tentang pentingnya:

  • Personalisasi berbasis data
  • Pengembangan ekosistem
  • Diferensiasi produk yang konsisten
  • Kecepatan inovasi
  • Koneksi emosional dengan pengguna

Sebagai pelopor industri wearable, Fitbit punya semua modal untuk menang—data, pengguna, dan pengakuan merek. Namun, tanpa strategi yang tajam dan eksekusi yang adaptif, modal tersebut menjadi sia-sia.

Fitbit kini menjadi pengingat bahwa di industri teknologi, menjadi yang pertama bukan jaminan untuk tetap menjadi yang terdepan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *