TABENGAN.COM – Pasar PC global menunjukkan tren pertumbuhan yang menggembirakan pada kuartal kedua tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset terkemuka Counterpoint Research, pengiriman unit PC secara global meningkat sebesar 8,4 persen secara tahunan (YoY). Ini merupakan angka pertumbuhan tertinggi sejak 2022, menandai titik balik setelah hampir tiga tahun stagnasi akibat pandemi COVID-19, inflasi, dan penurunan daya beli masyarakat global.
Namun di balik lonjakan tersebut, para analis memperingatkan bahwa pertumbuhan kali ini bukanlah cerminan dari pasar yang benar-benar sehat, melainkan respons terhadap tekanan eksternal seperti batas akhir dukungan sistem operasi, perkembangan teknologi AI, serta ketegangan politik global yang kian tak menentu—terutama dari arah Amerika Serikat.
Akhir Dukungan Windows 10 Jadi Pendorong Pembaruan Masif
Salah satu pendorong terbesar lonjakan permintaan PC pada kuartal ini adalah mendekatnya batas waktu akhir dukungan sistem operasi Windows 10 oleh Microsoft, yang akan jatuh pada Oktober 2025. Dengan berakhirnya dukungan keamanan dan pembaruan, banyak perusahaan besar, lembaga pemerintah, serta institusi pendidikan berlomba-lomba memperbarui perangkat keras mereka guna memastikan kompatibilitas dengan Windows 11 atau sistem terbaru berbasis AI.
Fenomena ini menciptakan permintaan artifisial yang tinggi pada sektor korporasi dan komersial. Perusahaan-perusahaan melakukan pengadaan massal PC baru, terutama laptop dan workstation kelas enterprise, untuk menghindari potensi risiko keamanan dan ketidakcocokan perangkat lunak di masa mendatang.
Sementara itu, pasar konsumen individu atau rumahan belum menunjukkan pemulihan yang serupa. Ketidakpastian ekonomi, sisa dampak pandemi, dan tekanan inflasi masih membuat banyak konsumen menunda pembelian perangkat baru, kecuali dalam kondisi mendesak.
AI PC Mulai Menarik Perhatian, Tapi Belum Jadi Arus Utama
Tren AI PC juga mulai memperlihatkan taringnya pada pertengahan 2025. Berbagai produsen seperti Lenovo, HP, dan Asus telah meluncurkan lini produk dengan kemampuan AI on-device, yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi kerja, daya tahan baterai, hingga keamanan data.
Namun demikian, adopsi PC berbasis AI saat ini masih didominasi oleh early adopter, yaitu pengguna yang memiliki kebutuhan spesifik seperti pekerjaan kreatif, pengembangan perangkat lunak, hingga sektor pendidikan tinggi dan riset. Belum terlihat adanya adopsi masif di kalangan konsumen umum karena tingginya harga dan keterbatasan use case yang relevan secara luas.
Bayang-Bayang Tarif Trump Menghantui Masa Depan Industri PC
Meski data pertumbuhan terkesan positif, para analis menyebutkan bahwa pasar PC sedang berada di ambang badai geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional, terutama terkait dengan kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat.
Kembalinya Donald Trump ke panggung politik dan kemungkinan besar ke Gedung Putih dalam pemilu mendatang membuat banyak pelaku industri cemas. Trump dikenal sebagai pendukung kebijakan protektionis dan pernah menerapkan gelombang tarif tinggi terhadap produk elektronik dari China selama masa kepemimpinannya. Jika kebijakan tersebut kembali diberlakukan, dampaknya bisa sangat merugikan pasar PC global yang sangat tergantung pada rantai pasok lintas negara.
Analis senior dari Counterpoint, Minsoo Kang, menyatakan bahwa dampak kebijakan tarif ini kemungkinan besar akan terasa lebih nyata pada paruh kedua 2025. “Banyak OEM memilih pendekatan wait-and-see. Mereka enggan mengambil risiko besar untuk ekspansi atau produksi masif sebelum ada kepastian kebijakan dari AS,” ujarnya.
Performa Vendor: Lenovo Terdepan, Asus Mengejutkan
Dalam laporan yang sama, Lenovo tetap mempertahankan dominasinya di pasar PC global dengan pangsa pasar 25 persen, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Keberhasilan Lenovo ditopang oleh kekuatan distribusi global dan efisiensi rantai pasok, serta cepatnya adopsi teknologi baru seperti AI dan Windows 11 Pro dalam portofolio produk mereka.
HP menyusul di posisi kedua dengan pangsa 20,9 persen, sementara Dell harus puas di posisi ketiga dengan 14,5 persen, meskipun mencatat penurunan dari tahun sebelumnya. Dell mengalami tekanan karena penundaan pengiriman dan transisi strategi pemasaran yang belum berjalan mulus di wilayah Asia Tenggara dan Eropa Timur.
Sementara itu, Apple berada di posisi keempat dengan pangsa 8,9 persen, menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 13 persen berkat kehadiran lini MacBook M4 yang dipersenjatai chip berbasis ARM terbaru dengan kinerja dan efisiensi daya tinggi.
Yang paling mencolok adalah Asus, yang mencatat pertumbuhan tertinggi di antara seluruh pemain besar, yaitu 18 persen YoY. Performa ini didorong oleh keberhasilan lini laptop gaming ROG dan TUF, serta produk AI-centric yang mulai populer di kalangan kreator konten.
Pasar 2026: AI PC Siap Mendominasi, Tapi Ketidakpastian Masih Membayangi
Meski pasar PC 2025 menunjukkan peningkatan, tahun 2026 menjadi pertaruhan besar bagi industri. Banyak pihak meyakini bahwa AI PC akan menjadi tren utama, dengan prediksi setidaknya 50 persen dari pengiriman laptop global tahun depan akan memiliki fitur AI on-device. Hal ini didorong oleh kolaborasi antara produsen chip (seperti Intel, AMD, dan Qualcomm) dengan vendor OEM dan pengembang perangkat lunak.
Namun sekali lagi, semua skenario optimistis ini bergantung pada kestabilan geopolitik dan kejelasan kebijakan dagang, khususnya dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China.
Pergeseran pabrik dari China ke negara-negara seperti Vietnam, India, dan Meksiko memang mulai berjalan, tetapi belum cukup kuat untuk sepenuhnya menggantikan dominasi Tiongkok dalam rantai pasok global. Jika AS kembali menerapkan tarif tinggi terhadap produk China, maka produsen PC harus mengambil keputusan cepat terkait relokasi produksi, distribusi, dan strategi harga.
Pertumbuhan Berlanjut Tapi Tidak Menentu
Secara keseluruhan, pasar PC global 2025 mengalami kebangkitan yang cukup menggembirakan, tetapi bukan tanpa catatan. Pertumbuhan ini banyak dipicu oleh faktor eksternal seperti berakhirnya dukungan Windows 10, ledakan minat terhadap AI PC, serta pemulihan sektor korporasi.
Namun bayang-bayang ketidakpastian politik, potensi kebijakan tarif dari AS, dan fluktuasi ekonomi global tetap menjadi ancaman besar. Industri harus mampu bergerak cepat, adaptif, dan proaktif menghadapi perubahan lanskap global.
Jika tidak, momentum yang kini mulai terbangun bisa hilang begitu saja, dan pasar PC kembali terjerumus ke dalam stagnasi yang lebih panjang.












