Dexop.com – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menggelar proses seleksi terbuka pita frekuensi 1,4 GHz (1432–1512 MHz) untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA). Upaya ini diambil sebagai bagian dari akselerasi transformasi digital dan perluasan jaringan internet tetap (fixed broadband) di berbagai wilayah Indonesia. Namun, di balik peluang besar ini, muncul berbagai catatan kritis, terutama dari GSMA, lembaga global yang menaungi operator seluler dunia.
Dalam pernyataannya, GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz terletak pada minimnya ekosistem global, biaya penggelaran yang tinggi, serta kesiapan infrastruktur pendukung. Pernyataan ini diperkuat oleh analis dan akademisi Indonesia, yang menilai bahwa keberhasilan implementasi spektrum ini tidak hanya bergantung pada siapa pemenangnya, tetapi juga bagaimana pemerintah dan operator menyikapi tantangan struktural di lapangan.
Frekuensi 1,4 GHz: Strategi Baru untuk Internet Terjangkau
Langkah Komdigi membuka seleksi frekuensi 1,4 GHz merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri Komdigi Nomor 337 Tahun 2025. Spektrum selebar 80 MHz yang dilelang akan dibagi ke dalam tiga wilayah regional, dan digunakan untuk teknologi Time Division Duplex (TDD) yang sangat cocok untuk layanan broadband tetap berbasis nirkabel.
Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, dalam pernyataan resminya menyebut, “Spektrum ini memang memiliki potensi untuk meningkatkan akses broadband tetap di negara-negara berkembang, namun GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz adalah karena spektrum ini belum menjadi standar global, dan sangat terbatas dukungan perangkat serta jaringan supply chain-nya.”
Ekosistem Global Belum Siap: Tantangan Pertama
Berbeda dengan frekuensi 3,5 GHz dan 2,6 GHz yang telah umum dipakai secara global dan memiliki ekosistem yang matang, frekuensi 1,4 GHz tergolong niche. Itu berarti:
- Ketersediaan perangkat jaringan seperti radio unit dan modem masih terbatas.
- Biaya impor dan kustomisasi perangkat lebih tinggi.
- Minimnya dukungan dari vendor besar global seperti Ericsson, Nokia, dan Huawei.
Karena belum banyak negara menggunakan spektrum ini, maka rantai pasok perangkat keras dan lunaknya belum berkembang, menjadikan biaya deployment jauh lebih tinggi dibandingkan spektrum lain.
“Ekosistem belum terbentuk, yang berarti operator akan menghadapi tantangan dalam sourcing perangkat dan integrasi jaringan,” ujar Julian. Pernyataan inilah yang menjadi dasar utama mengapa GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz sebagai isu strategis yang tidak bisa diabaikan.
Biaya Penggelaran Tinggi, Konsumen Perlu Perangkat Khusus
Agung Harsoyo, pakar telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), turut menegaskan tantangan teknis dan finansial dalam penggelaran Fixed Wireless Access berbasis 1,4 GHz. Menurutnya, biaya per site bisa mencapai Rp125 juta hingga Rp700 juta, tergantung jenis perangkat dan kelengkapan instalasi.
“Berbeda dengan jaringan seluler konvensional, FWA memerlukan modem khusus di sisi pengguna, dan itu menjadi biaya tambahan di level konsumen,” jelas Agung. Dengan kata lain, bukan hanya operator yang menanggung beban investasi, tetapi juga pengguna akhir.
Biaya ini mencakup:
- Pemasangan radio unit dan antena TDD.
- Integrasi dengan core network eksisting.
- Pengadaan modem FWA yang kompatibel.
- Uji kelayakan dan pengukuran spektrum.
Dalam konteks inilah, GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz semakin terasa nyata di lapangan, karena biaya besar ini dapat menjadi penghalang penetrasi internet di daerah dengan daya beli rendah.
Pemerintah Siapkan Diskon dan Insentif
Meski tantangan besar di depan mata, pemerintah tetap optimistis. Komdigi menyatakan bahwa akan ada sejumlah kebijakan insentif untuk menekan biaya penggelaran spektrum 1,4 GHz.
Salah satunya adalah diskon hak penggunaan frekuensi (HPF) bagi operator yang komitmen membangun jaringan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Langkah ini diambil seiring dengan target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor telekomunikasi yang ditetapkan sebesar Rp25,25 triliun pada 2025.
Namun, para analis menilai insentif ini harus dibarengi dengan kesiapan ekosistem perangkat. Tanpa dukungan vendor dan mitra global, insentif biaya hanya akan meringankan di awal, tetapi tidak menjamin keberlangsungan layanan jangka panjang.
Kebutuhan Fixed Wireless Access di Indonesia Semakin Mendesak
Dengan hampir 30{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} wilayah Indonesia belum terjangkau jaringan fiber optik, Fixed Wireless Access (FWA) menjadi solusi paling realistis. Terutama untuk:
- Desa-desa terpencil dan pegunungan.
- Wilayah perairan dan kepulauan.
- Kawasan urban padat di mana pembangunan fiber tidak efisien.
Dalam konteks inilah, GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz menjadi semacam pengingat bahwa strategi pembangunan digital tidak bisa hanya mengandalkan regulasi dan kebijakan, tetapi juga memerlukan harmonisasi teknologi dan bisnis.
Masa Izin dan Proyeksi Komersialisasi
Berdasarkan pengumuman Komdigi Nomor 1/SP/TIMSEL1,4/KOMDIGI/2025, masa berlaku izin penggunaan pita frekuensi 1,4 GHz ditetapkan selama 10 tahun sejak penetapan pemenang. Artinya, operator yang memenangkan lelang akan memiliki waktu cukup panjang untuk membangun dan menyesuaikan model bisnisnya.
Lelang ditargetkan rampung pada akhir Juli 2025, dengan proses pendaftaran dan evaluasi administrasi dilakukan sepanjang bulan Agustus. Pemenang diharapkan sudah mulai deployment jaringan pada Q1 2026.
Namun dengan banyaknya kendala, GSMA dan pakar lokal mendesak agar pemerintah menyiapkan mekanisme evaluasi tengah jalan agar investasi besar tidak berakhir sia-sia.
Vendor Perangkat Diminta Dilibatkan Sejak Awal
Agar spektrum ini bisa dioptimalkan, para ahli menyarankan agar pemerintah menginisiasi kerja sama strategis dengan vendor global. Negara-negara seperti India dan Brasil telah berhasil membentuk konsorsium antara pemerintah, operator, dan vendor untuk mengembangkan spektrum-spekstrum baru.
Sementara itu, GSMA menyarankan pembentukan working group nasional yang melibatkan regulator, operator, dan industri manufaktur untuk memastikan adopsi spektrum berjalan seiring dengan kesiapan teknologi.
“Kalau tidak ada standar dan dukungan vendor, maka frekuensi ini bisa jadi underutilized, dan itu akan merugikan negara,” tegas Julian Gorman. Inilah sebabnya mengapa GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz bukan hanya soal teknis, tetapi juga ekosistem industri.
Frekuensi 1,4 GHz dan Arah Pembangunan Digital Nasional
Dalam skema besar Roadmap Indonesia Digital 2030, ekspansi internet tetap berbasis FWA menjadi pilar utama untuk konektivitas inklusif. Pemerintah menargetkan:
- 80{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} desa digital terhubung broadband sebelum 2030.
- 100{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} layanan pendidikan dan kesehatan memiliki koneksi internet tetap.
- Transformasi layanan publik dan data center berbasis konektivitas berkelanjutan.
Namun keberhasilan target ini sangat bergantung pada bagaimana spektrum baru seperti 1,4 GHz diimplementasikan. Maka dari itu, GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz menjadi relevan sebagai refleksi dan peringatan dini atas potensi hambatan struktural di lapangan.
GSMA Sebut Tantangan Utama Pemanfaatan Frekuensi 1,4 GHz sebagai Alarm Awal
Kesimpulan utama dari seluruh dinamika ini adalah bahwa frekuensi 1,4 GHz memang menjanjikan, namun memerlukan perencanaan strategis dan kolaboratif. Pernyataan GSMA sebut tantangan utama pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz bukan untuk melemahkan upaya pemerintah, melainkan sebagai alarm awal agar transisi digital berjalan lebih terarah dan efisien.
Langkah-langkah seperti penguatan ekosistem, insentif fiskal, kerja sama vendor, hingga perlindungan konsumen, semuanya harus menjadi satu paket kebijakan yang menyeluruh.
Dengan strategi tepat, frekuensi 1,4 GHz bisa menjadi game changer dalam pembangunan internet nasional. Tapi tanpa pendekatan holistik, potensi besar ini bisa saja berakhir sebagai aset tidur yang tidak termanfaatkan maksimal.












