Jakarta, Dexop.com – Di tengah geliat perkembangan teknologi digital yang pesat, sebuah laporan mengejutkan datang dari Cloudflare—perusahaan global yang bergerak di bidang keamanan siber dan jaringan cloud. Dalam laporan resminya untuk kuartal kedua (Q2) tahun 2025, Indonesia dinobatkan sebagai negara nomor satu di dunia sebagai sumber serangan DDoS (Distributed Denial-of-Service).
Data ini bukan sekadar angka statistik. Fakta bahwa Indonesia berada di puncak daftar sebagai sumber serangan DDoS global menimbulkan kekhawatiran besar, baik secara nasional maupun internasional. Ini menjadi semacam alarm keras bagi semua pelaku industri digital, institusi pemerintah, dan publik luas akan pentingnya memperkuat keamanan siber di era konektivitas tanpa batas.
Apa Itu Serangan DDoS dan Mengapa Berbahaya?
Sebelum membahas lebih dalam, penting untuk memahami apa itu DDoS (Distributed Denial-of-Service). Secara sederhana, serangan DDoS adalah upaya untuk membuat layanan online tidak dapat diakses oleh pengguna sah, dengan cara membanjiri server, sistem, atau jaringan dengan lalu lintas internet yang sangat tinggi dan tidak wajar.
Dalam banyak kasus, serangan ini dilancarkan menggunakan botnet—kumpulan perangkat yang telah dikompromikan dan dikendalikan oleh pihak ketiga. Botnet ini bisa terdiri dari ribuan bahkan jutaan komputer, ponsel pintar, server, hingga perangkat IoT (Internet of Things) yang tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Serangan DDoS sering kali membuat situs web tumbang, sistem terganggu, dan layanan tidak bisa diakses, yang pada akhirnya berdampak pada kerugian besar secara ekonomi, kepercayaan pengguna, dan reputasi sebuah organisasi.
Fakta Mengejutkan dari Laporan Cloudflare Q2 2025
Cloudflare, sebagai salah satu perusahaan yang memiliki jaringan distribusi konten (CDN) terbesar di dunia, secara berkala merilis laporan tentang ancaman DDoS global berdasarkan data lalu lintas yang mereka tangani. Dalam laporan Q2 2025, tercatat beberapa fakta mencengangkan:
1. Indonesia Peringkat Pertama sebagai Sumber Serangan
Untuk pertama kalinya, Indonesia menduduki peringkat teratas sebagai sumber serangan DDoS di seluruh dunia, menggeser posisi Singapura dan Hong Kong yang sebelumnya mendominasi. Dalam laporan ini, Cloudflare menyebut bahwa:
“Peringkat ini tidak serta-merta menunjukkan lokasi geografis pelaku, melainkan posisi node botnet, titik proksi, dan endpoint VPN yang digunakan untuk melancarkan serangan.”
Ini berarti bahwa jaringan-jaringan di Indonesia telah dimanfaatkan secara masif sebagai sarana atau media perantara untuk meluncurkan serangan.
2. 7,3 Juta Serangan DDoS Tercatat, Turun dari Kuartal Sebelumnya
Meskipun jumlah serangan yang berhasil diblokir oleh Cloudflare di Q2 2025 “hanya” sebanyak 7,3 juta—turun drastis dari 20,5 juta serangan di Q1—angka ini masih 44{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
3. Serangan HTTP Naik 129{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}, Serangan Jaringan Turun 81{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}
Perubahan besar terjadi dalam pola serangan. Jika sebelumnya serangan banyak terjadi pada lapisan jaringan (L3/L4), kini serangan berbasis HTTP atau aplikasi web melonjak tajam hingga 129{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded}. Ini menunjukkan bahwa para pelaku siber beralih menargetkan layanan web, API, dan sistem login yang lebih spesifik dan berdampak langsung terhadap layanan digital.
4. Rekor Baru: Serangan Mencapai 7,3 Tbps dan 4,8 Miliar Paket/detik
Salah satu serangan terbesar dalam sejarah dicatat pada periode ini, dengan kekuatan hingga 7,3 terabit per detik (Tbps) dan 4,8 miliar paket per detik (pps). Jumlah ini setara dengan mencoba membanjiri sistem perusahaan raksasa sekaligus dalam satu waktu.
Negara-Negara Paling Terdampak dan Target Utama Serangan
Cloudflare juga merilis daftar negara yang menjadi target utama serangan DDoS pada kuartal ini. China menjadi negara yang paling banyak diserang, naik dua peringkat dibanding kuartal sebelumnya. Menyusul di bawahnya adalah Vietnam, India, Brasil, dan Amerika Serikat.
Sementara itu, Indonesia belum masuk dalam daftar 10 negara yang paling banyak diserang, tetapi perannya sebagai sumber serangan tentu mengundang sorotan dunia internasional.
Target Sektor Industri:
Beberapa sektor yang paling rentan terhadap serangan DDoS selama kuartal ini meliputi:
-
Telekomunikasi dan penyedia layanan internet (ISP)
-
Teknologi Informasi (TI) dan keamanan digital
-
Sektor pertanian (naik 38 peringkat ke posisi 8 besar)
Kenaikan drastis di sektor pertanian mencerminkan pergeseran pola serangan ke sektor-sektor non-tradisional, yang mungkin belum memiliki sistem keamanan yang memadai.
Mengapa Indonesia Bisa Jadi Sumber Serangan?
Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap posisi Indonesia sebagai sumber utama serangan DDoS global:
1. Tingginya Jumlah Perangkat Tidak Aman
Indonesia memiliki jumlah pengguna internet yang sangat besar—lebih dari 215 juta pengguna aktif. Banyak dari perangkat yang digunakan masih minim perlindungan antivirus atau firewall, menjadikannya sasaran empuk untuk dikendalikan oleh botnet.
2. Jaringan Publik yang Rentan
Banyak institusi dan pengguna pribadi di Indonesia yang menggunakan jaringan publik tanpa perlindungan tambahan seperti VPN atau sistem pemantauan. Ini membuka celah bagi aktor jahat untuk mengeksploitasi konektivitas.
3. Kurangnya Edukasi Keamanan Siber
Kesadaran masyarakat terhadap cyber hygiene masih sangat rendah. Banyak pengguna belum memahami risiko klik tautan sembarangan, mengunduh file dari sumber tidak jelas, atau menggunakan software bajakan—semua itu bisa menjadi jalan masuk malware.
Apa Bahaya Serangan DDoS bagi Dunia Bisnis dan Pemerintah?
Serangan DDoS bukan hanya soal teknis. Dampaknya sangat nyata dan bisa meluas ke berbagai sektor:
● Kerugian Ekonomi
Situs atau aplikasi yang tumbang selama beberapa jam bisa menimbulkan kerugian ratusan juta hingga miliaran rupiah. Contoh: situs e-commerce, bank digital, dan aplikasi transportasi.
● Kerusakan Reputasi
Konsumen kehilangan kepercayaan ketika layanan terganggu. Bagi startup atau perusahaan kecil, ini bisa menjadi pukulan telak.
● Gangguan Layanan Publik
Jika sistem pemerintah atau layanan darurat menjadi sasaran, maka dampaknya bisa fatal. Misalnya, layanan rumah sakit, sistem SIM online, atau aplikasi e-government.
Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?
Fakta bahwa Indonesia menjadi sumber utama serangan DDoS global harus dijadikan momentum pembenahan besar-besaran di bidang keamanan siber. Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan antara lain:
1. Peningkatan Literasi Keamanan Digital
Kampanye edukasi bagi masyarakat luas, pelaku UMKM, dan institusi publik tentang pentingnya penggunaan perangkat lunak resmi, VPN, antivirus, dan manajemen kata sandi yang baik.
2. Pengawasan ISP dan Infrastruktur Jaringan
Pemerintah dan penyedia layanan internet perlu lebih aktif memantau dan membatasi lalu lintas mencurigakan, serta berkolaborasi dengan global network seperti Cloudflare, Akamai, dan lainnya.
3. Pembangunan CERT Nasional yang Kuat
Indonesia memerlukan Computer Emergency Response Team (CERT) yang terkoordinasi dengan baik dan siaga 24 jam untuk menanggapi dan memitigasi serangan.
4. Regulasi yang Tegas dan Progresif
Pembaruan regulasi terkait cybercrime, pemanfaatan botnet, serta keamanan data harus segera disesuaikan dengan dinamika terbaru. Ini penting agar penegakan hukum lebih efektif.
Cloudflare Sarankan Strategi Bertahan dari Serangan
Dalam laporannya, Cloudflare menyarankan kepada organisasi dan perusahaan untuk:
-
Menggunakan solusi keamanan multi-layer, termasuk WAF (Web Application Firewall), DDoS mitigation system, dan CDN.
-
Monitoring trafik secara real-time untuk mendeteksi anomali sejak awal.
-
Menggunakan teknologi AI untuk deteksi dini ancaman siber.
-
Melatih staf TI secara berkala agar siap menghadapi ancaman terbaru.
Kesimpulan: Indonesia di Persimpangan Digital
Laporan dari Cloudflare ini seharusnya menjadi peringatan penting bagi seluruh elemen bangsa, dari masyarakat awam, pengembang aplikasi, pelaku industri digital, hingga pengambil kebijakan. Bahwa dalam era digital, keamanan siber bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
Indonesia sedang berkembang sebagai kekuatan besar dalam dunia digital, tetapi status sebagai sumber serangan DDoS terbesar di dunia adalah tamparan keras. Ini bukan hanya menyangkut reputasi internasional, tetapi juga ancaman nyata terhadap keberlangsungan ekonomi digital bangsa.
Langkah preventif dan kolaboratif harus segera diambil, sebelum kerentanan ini berubah menjadi krisis nasional yang sulit dikendalikan.












