Dexop.com – Lebih dari lima tahun setelah kampanye hitam Amerika Serikat terhadap raksasa teknologi China, Huawei dan ZTE, ternyata Eropa masih belum bisa sepenuhnya menutup pintu bagi kedua perusahaan tersebut.
Tekanan dari Washington yang mengatasnamakan keamanan dan tuduhan spionase memang sempat membuat beberapa negara Eropa mengeluarkan kebijakan larangan. Namun, sebagian besar negara di Benua Biru memilih pendekatan lebih pragmatis dibanding langkah tegas seperti Inggris atau Prancis.
Di balik keputusan itu, terdapat sejumlah faktor yang membuat Eropa sulit mengusir Huawei dan ZTE dari pembangunan infrastruktur 5G. Berikut enam alasan utamanya:
Alasan Eropa Tak Bisa Mengusir Huawei & ZTE
1. Infrastruktur 4G Eropa Sudah Dikuasai Huawei dan ZTE
Banyak operator seluler Eropa mengandalkan perangkat Huawei dan ZTE untuk jaringan 4G mereka.
Menghapus dan mengganti perangkat itu akan memicu biaya penggantian raksasa serta mengganggu operasional.
Apalagi, sebagian besar operator menggunakan pendekatan Non-Standalone (NSA) dalam membangun 5G, yaitu memutakhirkan jaringan 4G yang ada ke 5G, bukan membangun dari nol.
Jika perangkat Huawei dihapus, skema ini akan runtuh dan investasi membengkak.
2. Risiko Duopoli & Kenaikan Biaya
Di dunia, hanya ada empat produsen utama peralatan jaringan 5G end-to-end: Huawei, Ericsson, Nokia, dan ZTE.
Jika Huawei dan ZTE dilarang, praktis pasar Eropa hanya dikuasai dua pemain: Ericsson dan Nokia.
Kondisi ini akan mengurangi pilihan, menghambat inovasi, dan berpotensi menaikkan harga peralatan jaringan – membuat peluncuran 5G yang sudah mahal menjadi lebih membebani.
3. Huawei Dinilai Transparan Soal Keamanan
Meski diserang isu spionase, Huawei justru tercatat sebagai satu-satunya vendor yang membuka kode sumber dan perangkatnya untuk diaudit oleh badan intelijen Eropa secara berkelanjutan.
Hal ini memungkinkan pengujian penetrasi, perbaikan celah keamanan, dan transparansi penuh—sesuatu yang tidak dilakukan vendor lain.
Ironisnya, justru karena pengawasan ketat ini, kemungkinan perangkat Huawei lebih aman dibanding kompetitor.
4. Tuduhan Spionase Dinilai Berlebihan
Fakta bahwa seluruh vendor besar memproduksi perangkat atau komponennya di China membuat tuduhan spionase terhadap Huawei terasa tidak konsisten.
Jika niatnya memasukkan perangkat lunak atau perangkat keras berbahaya, peluangnya sama besar untuk vendor manapun—bahkan bisa jadi lebih mudah dilakukan pada vendor yang tidak diawasi seketat Huawei.
5. AS Tidak Memberi Insentif Nyata
Sejak awal, AS menekan sekutu untuk memutus hubungan dengan Huawei dan ZTE, tetapi tidak menawarkan kompensasi finansial atau solusi teknologi alternatif yang siap pakai.
Ancaman pembatasan berbagi intelijen pun jarang diwujudkan.
Proyek alternatif seperti perangkat lunak jaringan 5G open-source masih butuh waktu bertahun-tahun untuk siap digunakan, sehingga tidak relevan untuk kebutuhan percepatan 5G Eropa.
6. Menghindari Perang Dagang dengan China
China adalah salah satu mitra dagang terbesar Uni Eropa di sektor otomotif, barang mewah, penerbangan, hingga pariwisata.
Membatasi Huawei dan ZTE bisa memicu balasan dagang yang merugikan Eropa, termasuk akses pasar yang terhambat.
Selain itu, 5G adalah tulang punggung transformasi digital—menunda peluncurannya demi tekanan AS sama saja merugikan daya saing Eropa sendiri.
Analisis: Eropa Memilih Realisme daripada Konfrontasi
Keputusan banyak negara Eropa untuk tidak sepenuhnya memblokir Huawei dan ZTE adalah cermin politik realis di era geopolitik penuh gesekan.
Mereka menimbang risiko keamanan terhadap biaya, keterlambatan proyek, hingga dampak ekonomi jangka panjang.
Pola ini juga terlihat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang terus membuka peluang kerja sama dengan vendor China demi mempercepat transformasi digital.






