Ribuan Nelayan Cilacap Mulai Melaut
Ribuan nelayan di Kabupaten Cilacap mulai melaut karena kondisi perairan selatan Jawa Tengah berangsur kondusif setelah dua bulan buruk akibat pengaruh musim angin barat.
“Nelayan sudah mulai melaut karena cuaca mulai membaik. Cuma masih diperingatkan untuk tetap waspada sampai akhir bulan Maret,” kata Ketua Bidang Organisasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap Indon Tjahjono di Cilacap, Senin.
Menurut dia, nelayan harus tetap waspada terhadap potensi terjadinya petir di wilayah perairan selatan Jateng yang masih tinggi meskipun kecepatan angin barat mulai berkurang.
“Saat ini sudah mulai ada ikan di laut tetapi nelayan harus tetap waspada,” katanya.
Salah seorang nelayan, Kastam mengatakan bahwa gelombang di pantai selatan Cilacap dalam beberapa hari terakhir tidak terlalu tinggi sehingga relatif aman untuk melaut.
Kendati demikian, dia mengakui bahwa potensi terjadinya hujan disertai petir di wilayah perairan masih cukup tinggi.
“Namun apa boleh buat, kami harus melaut untuk menafkahi keluarga. Apalagi ikan-ikan mulai bermunculan meskipun belum banyak,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo memprakirakan tinggi gelombang maksimum di wilayah perairan selatan Jateng pada hari Senin (23/2) dan Selasa (24/2) berkisar 2,5-3 meter.
“Kalau lusa (Rabu, red.) hingga satu pekan ke depan, tinggi gelombang di perairan selatan Jateng diprakirakan menurun. Penurunan tinggi gelombang ini dampak dari melemahnya badai Lam yang terjadi di Australia bagian utara,” katanya.
Kendati demikian, dia mengimbau nelayan untuk tetap waspada karena hujan disertai petir masih sering terjadi di wilayah perairan selatan Jateng terutama pada malam hingga pagi hari.
Berdasarkan data HNSI Cilacap, di kabupaten itu terdapat sekitar 33.000 nelayan yang sebagian besar di antaranya sempat tidak melaut akibat cuaca buruk di perairan selatan Jateng yang terjadi sejak awal Januari 2015.



